Oleh : Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan di Bogor)
MASYARAKAT sempat dihebohkan oleh beredarnya sebuah video yang menampilkan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Dalam video tersebut seolah Menkeu mengatakan bahwa guru menjadi beban negara. Potongan video itu segera menyebar luas di tengah suasana peringatan kemerdekaan dan memicu kegelisahan di kalangan guru serta membangkitkan amarah publik.
Namun kemudian terungkap bahwa video itu hanyalah hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI) dengan teknologi deepfake.
Fenomena kegaduhan ini menjadi cermin betapa rapuhnya demokrasi informasi kita. Di satu sisi, teknologi AI membawa harapan besar bagi pendidikan, kesehatan, dan kemajuan bangsa.
Di pihak lain dapat menghadirkan ancaman serius berupa manipulasi fakta, kebohongan digital, dan kaburnya batas antara realitas dan rekayasa.
Pada bagian ini deepfake Sri Mulyani tidak sekedar persoalan teknis, melainkan krisis komunikasi publik.
Media massa dan ruang digital telah berubah menjadi arena pertarungan persepsi, dimana kebenaran kerap kalah cepat dibanding sensasi.
Guru, yang dalam keseharian sudah berjuang menghadapi keterbatasan fasilitas dan tuntutan administrasi, tiba-tiba harus menanggung luka batin akibat fitnah digital.
Nurani mereka terguncang karena profesi mulia yang mereka jalani seolah direduksi menjadi beban bangsa.
Dalam perspektif komunikasi media massa, kasus ini menegaskan bagaimana algoritma digital bekerja tanpa nurani. Konten yang mengundang amarah lebih cepat viral ketimbang klarifikasi yang menyejukkan.
Publik yang belum terbiasa dengan literasi digital akhirnya mudah terseret dalam arus kebohongan.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















