
Guru, yang mestinya menjadi benteng moral masyarakat, justru menjadi korban pertama dari bias informasi.
Oleh karena itu di sinilah pentingnya sikap bijak dari para guru. Peristiwa ini dapat dijadikan momentum untuk menguatkan literasi digital di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi juga pendidik nilaitermasuk nilai kritis dalam menyaring informasi.
Alih-alih larut dalam kemarahan, guru bisa mengubah luka akibat deepfake menjadi energi untuk mendidik generasi yang lebih cerdas menghadapi manipulasi teknologi.
Sementara itu, pemerintah tidak bisa berdiam diri. Kasus ini menegaskan perlunya regulasi yang jelas, tegas, dan adaptif terhadap perkembangan AI.
Bukan sekedar larangan, tetapi mesti ada aturan yang mampu mengontrol penggunaan teknologi agar tidak merusak tatanan sosial.
Selain itu perlu regulasi AI yang diiringi dengan penguatan lembaga pengawas, kolaborasi dengan platform digital, serta pendidikan publik mengenai bahaya manipulasi konten.
Tanpa hal itu bangsa ini akan terus berada dalam pusaran hoaks yang melemahkan kepercayaan publik.
Pada akhirnya deepfake Sri Mulyani merupakan alarm kerasyang berakibat bukan hanya mengguncang nurani guru, tetapi juga mengguncang kesadaran kita sebagai bangsa.
Sehingga ke depanpertarunganya bukan lagi semata soal ekonomi atau politik, melainkan juga soal kebenaran.
Jika guru mampu mengajarkan literasi kritis, dan pemerintah berani menghadirkan regulasi yang melindungi, maka bangsa ini masih punya harapan untuk berdiri tegak di era digital yang penuh tipu daya.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















