
BOGORTODAY.COM – Di balik megahnya Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tersimpan sebuah kisah yang tak lekang oleh waktu. Hanya beberapa langkah dari deru kendaraan, terdapat sebuah makam di bawah rindangnya pohon beringin. Warga menyebutnya sebagai patilasan Prabu Siliwangi.
Konon, sebelum stadion ini berdiri, patilasan itu sudah lebih dulu ada. Bagi sebagian orang, tempat ini bukan sekadar gundukan tanah, melainkan jejak sejarah dan pusat aura mistis yang menyelimuti kawasan Pakansari.
“Dari saya kecil sudah ada, cuma saya tidak tahu itu patilasan atau makam. Baru belakangan dengar katanya patilasan Prabu Siliwangi,” ujar Margoni (56), salah satu petugas keamanan Stadion Pakansari, belum lama ini kepada bogor-today.com
Margoni bercerita, dahulu wilayah Pakansari masih berupa hutan. Warga sekitar kerap masuk untuk mencari kayu bakar. Di bawah pohon beringin, ia kerap melihat sebuah gundukan batu. Kala itu, orang-orang mendatanginya untuk ritual mencari peruntungan, yang dikenal dengan istilah *nginpo*.
Namun, sejak Stadion Pakansari berdiri, patilasan itu berubah. Para peziarah dari berbagai daerah mulai berdatangan, terutama pada malam Jumat atau bulan-bulan tertentu yang dianggap sakral.
“Dulu waktu stadion baru berdiri, ramai orang berziarah. Tapi sekarang sudah jarang,” kata Margoni.
Kisah mistis mulai mencuat ketika banyak penonton bola tanpa sadar menginjak patilasan. Hingga suatu hari, seorang petugas keamanan mendadak kerasukan. Dengan suara parau, ia berteriak, “Saya diinjak-injak!” sambil mengamuk seperti binatang buas. Sejak saat itu, patilasan dibentuk menyerupai makam agar tak lagi disentuh sembarangan.
Misteri lain yang melekat adalah penunggu gaib yang dipercaya menjaga patilasan. Konon, sosok itu berwujud dua ekor macan putih. Kisah ini menguat setelah kejadian kerasukan yang menimpa seorang petugas.
“Waktu kesurupan, lagaknya kayak macan. Ngamuk, menggeram. Bahkan setelah pulang, di rumahnya pun masih kesurupan macan lagi. Bisa jadi itu macan putih penunggu patilasan,” tutur Margoni.
Rokhon (39), rekan sesama petugas keamanan, menambahkan bahwa patilasan itu bisa saja merupakan tempat orang sakti pada masa lalu untuk beristirahat atau bertapa.
Menurutnya, tidak menutup kemungkinan patilasan tersebut ada kaitannya dengan keturunan Prabu Siliwangi, hingga akhirnya dianggap sebagai makam hingga kini.
“Kadang masih ada yang datang berziarah malam-malam, di malam Jumat atau bulan Rajab,” tutupnya. (Mg1/Mg2)
Bagi HalamanEditor : Bas
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














