
Fenomena ini bukan hanya ada di Indonesia. Inggris, misalnya, menggunakan pasukan Gurkha asal Nepal untuk memperkuat operasi militernya. Maka, menilai Tidjah semata sebagai “pendukung kolonial” jelas terlalu sederhana.
Setelah KMB: Pengampunan untuk Tidjah
Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 dan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, nasib Tidjah serta anggota Barisan Tjakra ikut terdampak. Mereka memperoleh amnesti dan pengampunan sebagai bagian dari kebijakan rekonsiliasi nasional.
Situasi ini berbeda dengan ribuan tentara KNIL asal Ambon yang memilih bermigrasi ke Belanda. Tidjah sendiri tetap berada di tanah kelahirannya.
“Salah satu konsekuensi KMB 1949 adalah pengampunan. Jadi orang Belanda kita lepaskan, orang-orang kita yang mendukung Belanda juga dilepaskan,” ujar Kuncar.
Kisah Tidjah membuka sudut pandang lain tentang sejarah perjuangan Indonesia. Tidak semua keterlibatan dengan pihak kolonial lahir dari pengkhianatan.
Ada yang didorong oleh realitas kemiskinan, kebutuhan ekonomi, dan profesi militer bayaran.
Tidjah dengan segala kontroversinya tetaplah bagian dari sejarah. Perannya mengingatkan bahwa sejarah Indonesia tidak hitam putih—ada ruang abu-abu yang sering kali terlupakan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















