Potensi Besar Terabaikan, Guru Besar IPB University Soroti Salah Urus Pariwisata Indonesia

IPB University
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University Prof. Dr. Ir. Ricky Avenzora, M.Sc.F.Trop menyampaikan orasi ilmiah bertajuk "Retrospeksi Akademis 35 Tahun Pembangunan Ekowisata di Indonesia" di Gedung Auditorium Andi Hakim Nasoetion, IPB University, Bogor, Jawa Barat, Jumat (20/9/2024). (Foto: Humas IPB University)

BOGORTODAY.COM Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University Prof. Ricky Avenzora mengkritik keras pola penyegelan objek wisata yang dilakukan pemerintah daerah.

Menurutnya, langkah tersebut merugikan pengembangan ekowisata Indonesia yang sudah tertinggal dari negara tetangga.

Dalam Konferensi Pers Pra-Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada 18 September, Prof. Ricky yang akrab disapa Prof. Ara menyampaikan retrospeksi 35 tahun pembangunan ekowisata di Indonesia.

“Kita memiliki ratusan gunung berapi, garis pantai panjang, satwa endemik seperti gajah, harimau, dan badak, hingga ribuan spesies burung. Semua ini adalah potensi besar, tetapi yang muncul justru konflik antara satwa liar dan manusia,” kata Prof. Ara.

BACA JUGA :  Bahas Tata Kelola Lobster, MKI dan IPB University Desak Regulasi Berbasis Sains dan Inklusif

Indonesia memiliki lebih dari 1.300 etnis, ratusan seni bela diri, permainan tradisional, hingga ribuan folklor yang belum tergarap secara serius. Prof. Ara menyebut penelitian mahasiswanya di satu kabupaten menemukan lebih dari 300 folklor.

“Bayangkan jika dikalikan dengan 457 kabupaten/kota di Indonesia. Ini bisa menjadi kekuatan besar industri kreatif kita, bahkan menandingi drama Korea,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Prabowo Bertemu Menlu Turki di Hambalang, Bahas Timur Tengah hingga Pemulangan Relawan Indonesia

Prof. Ara mengidentifikasi tiga masalah utama dalam pembangunan pariwisata Indonesia:

Pertama, devisa dan jumlah wisatawan masih kalah dari negara tetangga. Kedua, potensi alam dan budaya justru banyak mengalami kerusakan. Ketiga, distribusi manfaat pariwisata yang timpang, di mana kelompok menengah ke atas lebih banyak menikmati keuntungan.

“Masyarakat kecil hanya memperoleh recehan dari industri pariwisata,” kata Prof. Ara.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================