
Dalam acara tersebut, Menteri Pariwisata juga menyerahkan piagam penghargaan kepada perwakilan dari masing-masing provinsi yang masuk daftar penilaian IMTI 2025.
Fokus pada Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas
Widiyanti menuturkan, ada tiga aspek utama yang terus ditingkatkan: atraksi, aksesibilitas, dan amenitas.
Dari segi atraksi, Indonesia memiliki warisan budaya Islam yang kaya dan menjadi bagian penting dari identitas bangsa. “Kita harus terus mengemas dan mempromosikan kekayaan ini sebagai pengalaman wisata ramah Muslim yang khas Indonesia,” katanya.
Untuk aspek aksesibilitas, pemerintah mendorong peningkatan konektivitas udara, kemudahan visa, serta lingkungan yang inklusif.
“Kami akan memanfaatkan sepenuhnya 36 bandara internasional untuk membuka lebih banyak jalur langsung ke destinasi wisata di seluruh nusantara,” jelasnya.
Indonesia kini menawarkan bebas visa ke sejumlah negara serta visa on arrival untuk lebih dari 100 negara, yang diharapkan semakin mempermudah kunjungan wisatawan internasional.
Sementara itu, pada aspek amenitas, pemerintah memastikan ketersediaan fasilitas ibadah dan produk halal di destinasi wisata.
“Kami memiliki lebih dari 309 ribu masjid dan 376 ribu musala di berbagai fasilitas publik, termasuk bandara dan pusat wisata. Kami juga memperluas cakupan produk bersertifikat halal hingga menjangkau 20 desa wisata di 15 provinsi,” ujar Widiyanti.
Langkah Digitalisasi Wisata Halal
Sebagai langkah lanjutan, Kementerian Pariwisata tengah menyiapkan portal khusus wisata halal yang akan memudahkan wisatawan Muslim dalam menemukan destinasi, kuliner, serta akomodasi ramah Muslim di seluruh Indonesia.
Upaya ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia agar kembali menduduki peringkat pertama dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) tahun depan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














