BOGORTODAY.COM – Kelompok Hamas menyatakan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam pemerintahan Jalur Gaza pascaperang.
Meski begitu, Hamas menegaskan tetap ingin menjadi “bagian fundamental” dari struktur politik Palestina.
Sikap ini disampaikan oleh seorang sumber Hamas yang dekat dengan komite negosiasi kelompok tersebut, Senin (13/10/2025).
Sumber itu menyebut keputusan ini diambil beberapa hari setelah gencatan senjata di Gaza diberlakukan, bersamaan dengan pembahasan implementasi rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Rencana tersebut menjadi dasar upaya penghentian konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas.
Lepas Kendali Gaza, tapi Tetap Ingin Berperan di Palestina
Menurut sumber Hamas, keputusan untuk tidak ikut dalam pemerintahan Gaza merupakan bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang dan memulai masa transisi.
“Hamas tidak akan berpartisipasi sama sekali dalam fase transisi, yang berarti telah melepaskan kendali atas Jalur Gaza, tetapi tetap menjadi bagian fundamental dari struktur Palestina,” ujar sumber tersebut.
Langkah ini menandakan perubahan signifikan dalam posisi politik Hamas yang selama hampir dua dekade menguasai Gaza sejak 2007.
Meski demikian, Hamas masih ingin tetap diakui sebagai kekuatan politik dan sosial yang sah dalam struktur Palestina.
Rencana Perdamaian 20 Poin
Dalam dokumen rencana perdamaian yang diusulkan Donald Trump, Jalur Gaza akan dijadikan “zona bebas teror” yang dideradikalisasi dan tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara tetangga.
Rencana itu juga menegaskan bahwa Hamas tidak boleh memiliki peran dalam pemerintahan Gaza di masa depan, sementara infrastruktur militer dan persenjataannya harus dihancurkan dan tidak dibangun kembali.
Untuk menjalankan pemerintahan sementara, akan dibentuk komite Palestina bersifat teknokratis dan apolitis yang bertugas mengelola layanan publik sehari-hari.
Menurut sumber Hamas, pihaknya bersama faksi-faksi lain telah mengajukan 40 nama calon anggota komite tersebut, dan tidak ada satu pun yang berasal dari Hamas.
Hamas Setuju Gencatan Senjata Jangka Panjang
Meski selama ini dikenal keras menolak perlucutan senjata, sumber Hamas menyebut kali ini tidak ada perpecahan di antara para pemimpin senior terkait langkah menuju perdamaian.
“Hamas menyetujui gencatan senjata jangka panjang, dan senjatanya tidak akan digunakan sama sekali selama periode ini, kecuali jika terjadi serangan Israel terhadap Gaza,” tegasnya.
Kesepakatan ini juga menandai perubahan strategi Hamas dari konfrontasi militer ke arah politik dan diplomasi, sesuatu yang sebelumnya sulit dicapai karena perbedaan pandangan di tubuh organisasi tersebut.
Arah Baru Hamas Pascaperang
Berbeda dari kelompok militan lain yang memiliki pengaruh kuat di kawasan, Hamas tampaknya mulai membuka jalan menuju peran politik yang lebih terbatas namun tetap berpengaruh di masa depan.
Kepemimpinan Hamas menyadari bahwa stabilitas Gaza pascaperang membutuhkan pendekatan baru, termasuk kerja sama dengan pihak internasional dan pemerintahan teknokratis sementara.
“Bagi Hamas, isu pemerintahan Gaza sudah selesai. Fokus kami adalah memastikan Gaza tetap menjadi bagian dari Palestina yang kuat dan berdaulat,” tutup sumber tersebut.
Langkah ini menjadi salah satu sinyal paling kuat bahwa Hamas tengah bersiap menuju fase politik baru setelah lebih dari 15 tahun menguasai Gaza di tengah blokade dan konflik yang tiada henti.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















