Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu: Renaisans Solidaritas dari Tanah Sunda

Agus Jatmika (Pengamat Sosial Budaya)

Oleh : Agus Jatmika (Pengamat Sosial Budaya)

KETIKA dunia modern kian mengagungkan efisiensi dan kompetisi, dari Jawa Barat justru menghadirkan sesuatu yang berbeda yakni Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu.

Sebuah inisiatif Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM)  yang  menyeru warganya untuk menyisihkan seribu rupiah sehari sebagai bentuk rereongan atau gotong royong khas Sunda.

Seolah tampak sederhana, namun sesungguhnya mengandung pesan sosial yang sangat dalam yakni membangkitkan kembali ruh solidaritas di tengah arus individualisme yang semakin deras.

Gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa pembangunan tidak cukup dengan infrastruktur fisik, tetapi juga butuh infrastruktur sosial seperti rasa saling memiliki, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.

Rereongan Sapoe Sarebu hadir sebagai simbol kebangkitan nilai kemanusiaan yang pernah menjadi pondasi kehidupan masyarakat Sunda yaitu silih asah, silih asih, silih asuh.

 Makna Sosial di Balik Rereongan

Pada hakeketnya rereongan lebih dari sekadar donasi kecil, tetapi  sebuah refleksi dari kesadaran sosial yang mendalam.

Di lembaga pendidikans misalnya siswa dapat belajar bahwa kebaikan dimulai dari kebiasaan kecil. Sedangkan di masyarakat, rereongan menjadi praktik nyata dari nilai empati yang tak lekang oleh waktu.

Dalam perpelstif  sosiologis, gerakan ini menghidupkan kembali konsep kesadaran kolektif yang dikemukakan oleh sosiolog Durkheim, bahwa masyarakat hanya akan kokoh jika warganya merasa saling terikat oleh nilai bersama.

BACA JUGA :  Timnas Indonesia U-19 Hadapi Timor Leste Malam Ini, Garuda Muda Incar Tiket Semifinal AFF U-19 2026

Dalam rereongan, seribu rupiah bukan angka, tetapi simbol kohesi sosial yang memperkuat jaringan kepercayaan di antara warga. Di tengah budaya instan dan kompetitif, gerakan ini mengingatkan bahwa kekuatan terbesar masyarakat terletak pada rasa saling peduli.

Konteks Sosial dan Tantangan Zaman

Selain itu gerakan ini tidak muncul dalam ruang kosong. Pemerintah Propinsi Jawa Barat menghadapi realitas sosial yang kompleks antara lain urbanisasi pesat, kesenjangan ekonomi, dan menipisnya ruang sosial akibat tekanan gaya hidup konsumtif.

Dalam situasi ini, Rereongan Sapoe Sarebu menjadi bentuk perlawanan sosial yang halus melawan apatisme dan menghidupkan kembali gotong royong yang mulai memudar.

Sementara itu dari kacamata teori perubahan sosial, rereongan merupakan  upaya menggeser struktur nilai masyarakat dari individualistik ke kolektivistik.

Gerakan sosial ini bukan hanya soal memberi, tetapi juga tentang membangun kembali jembatan sosial yang rusak akibat ketimpangan. Dengan adanya  rereongan, solidaritas sosial menjadi praktik keseharian, bukan wacana moral yang gampang  menguap.

Menata Manajemen Sosial Gerakan

Tentunya  gerakan ini  tidak cukup hanya dengan semangat. Sebab sebuah gerakan sosial akan bertahan jika memiliki sistem pengelolaan yang transparan, partisipatif, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Sehingga Rereongan Sapoe Sarebu perlu dikelola sebagai gerakan sosial yang berbasis komunitas dimana masyarakat menjadi subjek, bukan sekadar penyumbang.

BACA JUGA :  Pansus DPRD Kota Bogor Rampungkan Raperda BPBD Tipe A dalam Waktu Satu Bulan

Pada bagian ini sekolah dan kampus bisa menjadi pusat edukasi sosial yang menanamkan nilai rereongan sebagai karakter generasi muda.

Sementara pemerintah daerah berperan sebagai penghubung dan pengendali arah, sedangkan komunitas lokal menjadi pelaksana yang menjaga agar rereongan tetap hidup dalam keseharian warga.

Selain itu transparansi pengelolaan dana dan hasil gerakan menjadi syarat mutlak agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Dengan pola seperti ini, rereongan tidak hanya menjadi gerakan amal, tetapi juga menjadi mekanisme sosial baru yang melatih masyarakat untuk mandiri dan saling memberdayakan.

Renaisans Solidaritas dari Tanah Sunda

Jika di Eropa renaisans menandai kebangkitan ilmu dan seni, maka di Jawa Barat renaisans ini adalah kebangkitan solidaritas sosial.

Rereongan Sapoe Sarebu mengajarkan bahwa kebangkitan sejati sebuah masyarakat bukan diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari tumbuhnya rasa saling peduli dan kemampuan menegakkan keadilan sosial.

Dengan adanya gerakan ini, terdapat   pesan moral dari Tanah Sunda ke bangsa Indonesia bahwa nilai-nilai luhur tidak boleh hilang ditelan zaman.

Dari seribu rupiah sehari, tumbuh kesadaran besar tentang kemanusiaan bersama. Hal ini merupakan renaisans solidaritas yakni sebuah kebangkitan yang lahir dari kebersahajaan, tetapi mampu mengguncang kesadaran sosial yang lebih luas.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================