BUDAYA MASYARAKAT YANG BERPENGARUH TERHADAP JUMLAH PEROKOK PELAJAR DI INDONESIA

Jika ada hajatan di masyarakat, baik itu ada acara tahlil, syukuran, kondangan, akikah, pindahan rumah dan lain-lain tuan rumah juga menyediakan rokok yang ditaruh di gelas untuk jamuan selain makanan serta minuman.

Bahkan wong cilik seperti kaum buruh, tukang becak, ojek, sopir, pemulung dan lain-lain, ada slogan yang terkenal yaitu,”Tidak makan gak apa-apa asal bisa merokok,” weleh-weleh ngeri amat slogannya.

Sementara dikalangan anak muda ada yang bilang,”Putus cinta tidak apa-apa, asal jangan putus merokok,”. Ini juga sama parahnya, seperti slogan sebelumnya.

BACA JUGA :  Sarwendah Ingin Perselisihan dengan Ruben Onsu Segera Tuntas Demi Anak-anak

Ada orang tua yang menyuruh anaknya yang masih kecil atau pelajar untuk beli rokok di warung. Banyak juga orang tua dan dewasa yang merokok di depan anak kecil atau pelajar. Dan jika kita mau jujur, banyak di pinggir jalan, anak-anak pelajar masih memakai seragam sekolah pada nongkrong dengan santai sambil merokok .

Ada juga budaya yang sepertinya bijaksana, tapi tetap saja salah, yaitu,”Saya sebetulnya tidak merokok, saya merokok jika ada tamu untuk menghormati tamu tersebut,”.

BACA JUGA :  Batu Ginjal Tak Selalu Karena Kurang Minum, Ini Penyebab yang Perlu Diwaspadai

Itulah beberapa budaya masyarakat Indonesia yang menyebabkan semakin hari semakin banyak jumlah perokok di Indonesia dan itu terbukti dengan laporan WHO yang menempatkan Indonesia rangking ke 1 jumlah perokok terbanyak di Indonesia. Ayo dari sekarang kita rubah budaya yang tidak baik tersebut. Jayalah Indonesiaku.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================