Fatherless, Ketika Ada Tapi Tak Hadir

Disisi lain budaya patriarki menambah lapisan ironi. Maskulinitas didefinisikan oleh kerja keras, bukan kelembutan, oleh ketegasan, bukan keterlibatan.

Seorang ayah merasa cukup bila mampu memberi nafkah, tanpa sadar bahwa yang lebih dibutuhkan anaknya adalah sentuhan, cerita, dan perhatian.

Dalam kerangka sosiologis, hal ini merupakan krisis peran sosial laki-laki yang kehilangan keseimbangan antara fungsi ekonomi dan fungsi afektif.

Generasi yang Tumbuh Tanpa Arah

Dengan demikian absennya figur ayah bukan hanya persoalan psikologis, tetapi juga sosial. Dalam hal ini penelitian sosiologi keluarga menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam pola fatherless cenderung mengalami kesulitan dalam pengendalian diri, memiliki tingkat empati yang rendah, dan kesulitan mengenali otoritas dengan sehat.

BACA JUGA :  Sambut Hari Lingkungan Hidup, Warga Mekarjaya dan PTPN IV Regional I Normalisasi Sungai Cikalong

Mereka mencari figur pengganti di luar rumah , entah pada guru, teman sebaya, atau bahkan tokoh dunia maya.

Sementara itu dalam dunia pendidikan, hal ini mulai terasa. Sekolah sering kali menjadi tempat anak mencari pengganti figur ayah.

Maka, ketika Abdul Muti menyoroti fenomena ini, ia sesungguhnya sedang menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa rekonstruksi fungsi keluarga, terutama kehadiran ayah sebagai figur moral dan emosional pertama dalam kehidupan anak.

Menemukan Kembali Kehadiran

Fenomena fatherless menuntut redefinisi makna kehadiran seorang ayah. Kehadirannya  bukan sekedar waktu di rumah, tetapi keterlibatan penuh dalam dinamika batin anak.

BACA JUGA :  Kenali Tanda-Tanda Atap Rumah Bocor Tanpa Harus Naik ke Atas

Sebuah kehadiran untuk menemani belajar, mendengarkan cerita sederhana, hingga hadir dalam kegagalan kecil merupakan bentuk cinta yang tak ternilai.

Pada dasarnya ayah masa kini harus belajar kembali menjadi manusia yang utuh yakni pekerja yang produktif sekaligus pendidik yang hangat.

Dalam konteks sosiologi keluarga, kehadiran ayah yang utuh berarti membangun modal sosial baru yaitu hubungan yang saling percaya, rasa aman, dan nilai-nilai moral yang ditanamkan melalui kedekatan.

Karena sesungguhnya, di balik setiap anak yang tangguh, hampir selalu ada sosok ayah yang benar-benar hadir, bukan hanya yang ada di rumah, tapi yang hidup di dalam jiwanya.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================