
Meski begitu, Aqilah mengaku akan kehilangan pilihan mode yang selama ini menjadi favoritnya.
“Aku agak terdampak sih. Jadi susah cari barang yang sesuai selera,” katanya.
Bagi mereka, keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menutup impor pakaian bekas ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, melindungi industri lokal. Di sisi lain, menghapus lapangan kerja ribuan pedagang kecil.
“Kalau ditutup total, kasihan yang jualan. Harusnya ditertibkan saja, bukan ditutup,” kata Ikram Fatturahman (16). Ia mengusulkan pemerintah menata, bukan mematikan.
“Ada orang yang hidup dari thrifting. Kalau ditutup, bebannya besar,” ujarnya.
Pandangan serupa datang dari Sarah (22), pelaku usaha thrifting yang mengikuti dinamika kebijakan lewat media sosial. Ia mencoba memahami alasan di balik keputusan pemerintah.
“Katanya demi kebaikan industri lokal. Ya mungkin menterinya lebih tahu. Kalau memang harus dihentikan, ya tidak apa-apa, mungkin bisa jualan lain,” ujarnya.
Sarah tahu betul mengapa thrift shop diminati. “Karena murah. Sekarang daya beli masyarakat menurun, orang cari barang yang terjangkau,” katanya.
Ia tidak menutup kemungkinan beralih ke produk lokal, asal kualitasnya mampu bersaing. “Kalau industri tekstil Indonesia lebih bagus dan laku di pasaran, pasti ganti ke lokal,” ucapnya.
Namun ia juga mengaku khawatir. “Katanya bukan thrift saja yang ditutup, semua barang impor China juga,” katanya. Ia sadar masa sulit akan datang. “Pasti rugi. Harus cari alternatif baru, pikir ulang strategi,” ujarnya. (MG2/MG3/MG4)
Editor : Bas
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















