
Disinilah nilai kepahlawanan harus ditransformasikan dari semangat “angkat senjata” menjadi semangat “angkat kesadaran”. Kepahlawanan digital dapat diwujudkan melalui gerakan literasi, advokasi sosial, atau kampanye solidaritas yang memperjuangkan isu kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan sosial.
Menanamkan Nilai, Bukan Sekdar Seremonial
Sayangnya, setiap Hari Pahlawan sering kali berhenti pada upacara bendera dan pembacaan puisi. Padahal yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai kepahlawanan dihidupkan dalam praktik keseharian. Sekolah, keluarga, dan media seharusnya menjadi ruang bagi regenerasi nilai seperti keberanian, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab sosial.
Sementara itu jika dilihat dari realitas sosial saat ini, banyak institusi pendidikan justru kehilangan orientasi nilai. Pendidikan lebih berfokus pada hasil akademik dan citra lembaga, bukan pembentukan karakter sosial. Disisi lain, keluarga modern kian sibuk secara ekonomi, hingga peran penanaman nilai berpindah ke media digital yang sering kali kontradiktif dengan nilai-nilai kebajikan.
Pahlawan zaman now tak perlu tampil gagah di medan perang, tetapi cukup dengan menjadi teladan dalam keseharian seperti guru yang tulus mendidik tanpa pamrih, relawan yang setia di pelosok, atau anak muda yang memilih karya daripada sensasi.
Membangun Kesadaran Kolektif
Transformasi nilai kepahlawanan tidak bisa hanya dibebankan kepada individu tetapi mesti menjadi gerakan kolektif. Pemerintah, institusi pendidikan, komunitas, dan media memiliki peran penting untuk menghidupkan kembali makna kepahlawanan dalam konteks kekinian. Bukan hanya slogan, tapi menjadi budaya.
Dalam hal ini sosiolog Emile Durkheim pernah menegaskan bahwa masyarakat bertahan karena adanya kesadaran kolektif berdasarkan nilai-nilai yang diyakini bersama.
Bila kesadaran kolektif itu melemah, maka yang muncul adalah masyarakat yang terpecah dan kehilangan arah moral. Sehingga tantangan terbesar kita hari ini adalah bagaimana membangun kembali kesadaran kolektif kepahlawanan sebagai energi moral bangsa.
Ketika semangat juang para pendiri bangsa diterjemahkan dalam bentuk kerja keras, kolaborasi, dan empati sosial, maka kita sedang membangun “Surabaya baru” di dalam diri kita masing-masing, sebuah tempat dimana keberanian, solidaritas, dan tanggung jawab kembali menjadi nilai hidup bersama.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















