
Tidak semua anggota kelas dapat ikut serta. Dari sekitar 40-an siswa pada masa SMA, beberapa telah mendahului. Kali ini, hanya 14 rekan yang bisa meluangkan waktu. Di antara yang hadir adalah Lajuanda, Sabartian Ubay, Nuri, Opik, Nunu, Ayip, Glen, Yerson, Fauzi dan Dahrul.
Para sahabat yang menyebut diri mereka “Dupati” ini pertama kali bertemu di SMAN IX pada 1977, saat berusia 17 tahun. Sebagian sudah sekelas sejak kelas satu, berlanjut di kelas dua setelah pembagian jurusan, dan bertemu lagi di kelas tiga pada 1979. Mereka lulus bersama pada pertengahan 1980, setelah adanya perpanjangan masa belajar enam bulan sesuai kebijakan Mendikbud kala itu, Daud Yoesoef.
Dupati dikenal sebagai generasi yang pekerja keras, kompetitif, dan berkomitmen tinggi—tumbuh pada masa kemakmuran ekonomi pascaperang dan perubahan sosial besar. Mereka juga dikenal menjunjung tradisi, termasuk kebiasaan menggelar reuni hingga kini.
Sebagian besar alumni ini juga merupakan pencinta alam. Salah satu lagu yang masih melekat hingga kini adalah “Di Jenjang Desember”, lagu yang kerap dinyanyikan oleh para pendaki. Lagu tersebut bukan ciptaan Soe Hok Gie, namun terinspirasi dari wafatnya sang aktivis di Gunung Semeru pada 16 Desember 1969. Lagu itu menjadi simbol duka sekaligus penghormatan terhadap idealisme Soe Hok Gie, yang banyak dikagumi generasi mereka.
Tidak ada yang lebih menghangatkan hati selain kenangan masa SMA. Itulah yang membuat reuni para “aki-aki dan nini-nini” dari Dupati ini selalu penuh tawa, nostalgia, dan rasa haru. Meski usia sudah menginjak 65–66 tahun, semangat mereka tetap muda.
Benarlah, usia hanyalah angka—karena kebahagiaan milik siapa saja.***
Editor : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















