BOGORTODAY.COM – Selama bertahun-tahun, masyarakat luas percaya bahwa kecerdasan seseorang dapat dibagi menjadi dua kategori: otak kiri yang logis dan analitis, serta otak kanan yang kreatif dan artistik.
Seseorang yang teliti dianggap “berotak kiri”, sementara mereka yang gemar seni dan bebas berekspresi sering disebut “berotak kanan”.
Keyakinan ini bahkan berkembang menjadi industri kecil berupa buku, tes kepribadian, hingga pelatihan yang mengklaim dapat “mengoptimalkan” salah satu belahan otak.
Namun, sains modern mengatakan hal yang berbeda. Gagasan ini ternyata hanyalah mitos.
Kecerdasan Otak Kanan dan Kiri, Menurut Penelitian, Adalah Mitos
Menurut ensiklopedia Britannica, pembagian manusia menjadi “berotak kanan” atau “berotak kiri” tidak memiliki dasar ilmiah. Memang benar setiap orang memiliki kepribadian dan bakat berbeda, tetapi sains menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh dominasi salah satu sisi otak.
Penelitian modern dengan teknologi pencitraan otak (brain imaging) tidak menemukan bukti bahwa satu belahan otak bekerja lebih dominan dalam kecerdasan seseorang. Bahkan, konsep ini juga goyah karena definisi yang digunakan oleh mitos tersebut terlalu samar.
Contohnya:
- Matematika sering disebut sebagai kemampuan otak kiri karena sifatnya yang logis.
Namun matematika juga sangat bergantung pada kreativitas, yang dianggap milik otak kanan. Jadi, apakah matematikawan tergolong orang “berotak kanan” atau “berotak kiri”? - Seni dianggap produk emosi dan spontanitas otak kanan.
Padahal banyak karya seni besar lahir dari proses yang sangat terstruktur dan presisi—karakteristik yang disebut-sebut milik otak kiri.
Kenyataannya, otak manusia bekerja sebagai sistem yang terintegrasi, bukan dua mesin terpisah.
Akar Ilmiah yang Menyebabkan Mitos Ini Muncul
Walaupun hasil akhirnya keliru, mitos ini berakar pada sedikit temuan ilmiah nyata.
Pada 1940-an, dokter melakukan operasi pemutusan korpus kalosum—jembatan saraf yang menghubungkan belahan kanan dan kiri otak—untuk mengurangi kejang pada pasien epilepsi.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















