
Setelah prosedur ini, yang kini jarang dilakukan, pasien tetap memiliki fungsi intelektual normal tetapi menunjukkan beberapa gangguan tertentu.
Dari penelitian terhadap pasien dengan otak terbelah (split-brain) itu, ditemukan bahwa:
- Belahan kanan lebih unggul dalam tugas spasial (ruang dan bentuk).
- Belahan kiri lebih banyak terlibat dalam bahasa dan pemecahan masalah.
Namun pembagian kerja ini tidak berarti satu belahan mendominasi kepribadian atau kecerdasan seseorang. Keduanya tetap bekerja sama dalam hampir semua aktivitas.
Mengapa Banyak Orang Mempercayainya?
Jika mitos ini tidak didukung bukti ilmiah, mengapa ia begitu populer?
Jawabannya berkaitan dengan efek Barnum—kecenderungan manusia menerima pernyataan umum sebagai deskripsi akurat tentang diri mereka sendiri, terutama jika pernyataan itu terdengar positif.
Pernyataan seperti:
- “Kamu kreatif dan spontan, jadi pasti berotak kanan,”
- atau “Kamu logis dan teratur, artinya otak kiri dominan,”
…mudah diterima karena terasa relevan, padahal sifatnya sangat generik.
Mitos otak kanan–otak kiri menawarkan cara yang tampak ilmiah untuk memahami diri sendiri, meski sebenarnya tidak akurat. Itulah mengapa ia bertahan lama dan masih dipercaya banyak orang.
Otak Bekerja Secara Menyeluruh, Bukan Terbelah
Sains modern menegaskan bahwa tidak ada orang yang benar-benar “berotak kanan” atau “berotak kiri”. Kedua belahan otak saling terhubung dan bekerja sama dalam hampir semua aktivitas, baik yang kreatif maupun analitis.
Kepribadian, bakat, dan kemampuan seseorang jauh lebih kompleks daripada sekadar dominasi sisi otak. Daripada mencari “belahan otak yang kuat”, lebih penting memahami potensi diri secara utuh dan mengembangkannya melalui pengalaman, belajar, dan latihan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















