
Pada Pilpres 2019 ada 2 pasangan yaitu Prabowo dengan Sandiaga Uno dan Jokowi dengan KH. Maruf Amin. Tetap terjadi 2 kelompok yang pendukung Prabowo disebut Kadrun dan pendukung Jokowi di sebut Cebong.
Setelah Jokowi tidak jadi presiden, tidak selesai NKRI terpecah belah menjadi 2, yaitu pendukung yang pro Jokowi ijazahnya asli disebut Ternak Mulyono (Termul). Sedang yang kontra Jokowi, karena menilai ijazahnya Jokowi palsu tidak dapat sebutan.
Penulis tidak heran, beda pendapat itu biasa, asal dalam batas-batas kewajaran. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda, “Aku memohon 3 perkara kepada Allah, maka Allah memberiku 2 perkara dan menolak 1 perkara. Aku memohon agar Dia tidak membinasakan umatku dengan kekurangan pangan yang menyeluruh, maka Dia mengabulkannya, tidak membinasakan mereka dengan ditenggelamkan, maka Dia mengabulkannya, dan tidak menimpakan permusuhan di antara mereka, maka Dia menolaknya.” (HR Muslim).
Hikmah adanya permusuhan atau beda pendapat ini, Allah memberi kesempatan kepada kita untuk mendamaikan saudara kita yang beda pendapat. Allah memberi kesempatan kepada kita untuk saling mengingatkan dan memberi nasihat kepada saudara kita tersebut. Karena ini dari agama adalah nasihat.
Saatnya kita duduk bareng sambil minum kopi sruput, karena ciri bangsa Indonesia itu musyawarah, kekeluargaan, gotong royong dan santun, bukan berdebat sampai matanya melotot. Jayalah Indonesiaku.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















