
“Dari overview helikopter, terlihat jelas aktivitas pembukaan lahan untuk PLTA, hutan tanaman industri, pertambangan, dan kebun sawit. Tekanan ini memicu turunnya material kayu dan erosi dalam jumlah besar. Kami akan terus memperluas pengawasan ke Batang Toru, Garoga, dan DAS lain di Sumatera Utara,” tegas Hanif.
Ia menilai, dengan intensitas curah hujan ekstrem yang dapat mencapai lebih dari 300 milimeter per hari, kondisi bentang alam yang terbuka di lereng dan hulu sungai menjadi faktor risiko signifikan terhadap bencana hidrometeorologi.
Hanif menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap seluruh kegiatan usaha di kawasan yang memiliki sensitivitas ekosistem tinggi. Pemerintah akan melakukan perhitungan kerusakan, meninjau aspek hukum, hingga membuka peluang proses pidana jika ditemukan unsur yang memperparah dampak bencana.
Hanif menyampaikan bahwa pemulihan lingkungan di Batang Toru dan Garoga harus dilakukan sebagai satu kesatuan lanskap, mulai dari konservasi tutupan hutan, penataan ruang, hingga tata kelola usaha.
Dia memastikan pemerintah telah memperketat mekanisme verifikasi persetujuan lingkungan dan kesesuaian tata ruang untuk seluruh aktivitas yang berada di wilayah berisiko tinggi seperti lereng curam, hulu sungai, dan alur sungai.
“Kami tidak akan ragu menindak tegas setiap pelanggaran. Penegakkan hukum lingkungan adalah instrumen utama untuk melindungi masyarakat dari bencana yang bisa dicegah,” tegas Hanif.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















