BOGORTODAY.COM – Bayi menangis, kita maklumi. Tapi ketika orang dewasa menitikkan air mata, sering kali muncul rasa malu, bersalah, atau dianggap tidak mampu mengendalikan diri.
Padahal, menurut para ahli, menangis adalah reaksi manusia yang sangat sehat secara emosional.
“Menangis adalah pengalaman yang unik bagi manusia,” ujar Alla Demutska, Direktur Klinis Psikoterapi di The School of Positive Psychology. “Jika hewan menangis untuk melindungi mata, manusia menangis karena emosi.”
Sejak bayi, tangisan menjadi bahasa pertama kita untuk menyampaikan rasa lapar, sakit, atau ketidaknyamanan.
Namun ketika tumbuh dewasa, tangisan berkembang menjadi cara mengekspresikan perasaan yang lebih kompleks: kehilangan, haru, kesedihan, bahkan kebahagiaan mendalam.
Mengapa Menangis Bisa Menyehatkan?
Menangis bekerja layaknya katup tekanan pada panci yang mendidih — melepaskan emosi dan meredakan ketegangan. Melalui air mata, tubuh membantu membuang hormon stres seperti kortisol dan prolaktin.
Setelah menangis, banyak orang merasakan:
- napas menjadi lebih dalam,
- detak jantung menurun,
- tubuh terasa lebih rileks,
- pikiran terasa lebih jernih.
Itulah sebabnya menangis sering memberikan rasa lega. Bahkan tangisan bahagia pun punya penjelasan ilmiah: jalur saraf untuk emosi positif dan sedih berada sangat dekat sehingga otak kadang “salah membaca” intensitas perasaan yang memuncak.
Menangis dan Norma Sosial: Mengapa Perempuan Lebih Sering Menangis?
Statistik menunjukkan perempuan menangis 30–64 kali per tahun, sedangkan laki-laki hanya 5–17 kali. Namun para peneliti menyebut perbedaan ini lebih dipengaruhi norma sosial, bukan biologis.
Melansir CNA, perempuan di tempat kerja sering khawatir dianggap terlalu emosional. Sementara laki-laki diajarkan bahwa menangis adalah tanda kelemahan. Padahal, menangis adalah respons manusiawi, bukan ukuran profesionalitas atau ketangguhan.
Sayangnya, budaya korporat yang kaku sering tidak memberi ruang bagi pelepasan emosi, membuat banyak orang menahan tangis demi citra. Padahal menahan emosi justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















