Oleh : Agus Jatmika (Pengamat Sosial Budaya)
PAGI itu sekolah belum sepenuhnya ramai. Beberapa guru baru saja membuka ruang kelas ketika seorang bapak datang dengan langkah tergesa namun tetap tenang. Dengan nada sopan, ia menyapa guru anaknya dan menyampaikan maksud kedatangannya.
“Maaf mengganggu, Pak. Saya boleh mengambil rapor anak saya lebih pagi? Jam sembilan saya harus sudah rapat di kantor,” ujarnya singkat, tanpa banyak basa-basi.
Permintaan itu terdengar sederhana. Tetapi di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan yang kuat tentang cara seorang orang tua memaknai pendidikan anak.
Ia datang lebih pagi, menyisihkan waktu sebelum rapat penting, bukan untuk urusan pribadi, melainkan untuk mengambil laporan hasil belajar putra-putrinya. Anak itu sendiri diketahui harus berangkat lebih pagi hari itu, dan sang ayah memastikan tetap hadir mewakilinya.
Belakangan diketahui, bapak tersebut adalah salah satu direktur perusahaan besar di Jakarta. Jabatan dan kesibukan tidak menjadikannya absen dari urusan sekolah anak.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















