
Ia tidak mengutus sopir, asisten, atau sekedar meminta rapor dititipkan. Ia datang sendiri, berbicara langsung dengan guru, dan menunjukkan bahwa laporan hasil belajar bukan sekedar selembar kertas administratif.
Tak sedikit keluarga, pengambilan rapor kerap dianggap rutinitas tahunan yang bisa diwakilkan. Padahal, rapor adalah jendela kecil untuk melihat proses panjang yang dijalani anak di sekolah: bagaimana ia belajar, beradaptasi, berjuang, dan bertumbuh. Kehadiran orang tua saat mengambil rapor adalah bentuk pengakuan bahwa proses itu penting, layak diperhatikan, dan patut dihargai.
Bagi anak, kehadiran orang tua di sekolah—meski hanya sebentar—memberi makna tersendiri.
Ia merasa diakui, diperhatikan, dan tidak berjalan sendirian dalam proses pendidikannya. Pesan yang tertanam bukan tentang nilai semata, melainkan tentang komitmen dan kebersamaan. Bahwa belajar bukan hanya urusan sekolah, melainkan juga keluarga.
Selain itu tak sedikit ada hal mendasar yang kerap terlupakan bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum, metode, atau fasilitas, tetapi juga tentang teladan. Tentang bagaimana orang tua, dengan segala kesibukannya, tetap memberi ruang bagi pendidikan anak sebagai prioritas.
Di tengah ritme hidup yang serba cepat, jejak langkah sang bapak itu meninggalkan pesan sunyi namun kuat bahwa sesibuk apa pun pekerjaan, perhatian orang tua terhadap pendidikan anak tidak seharusnya ditunda. Sebab, bagi anak, kehadiran itu adalah pelajaran pertama tentang tanggung jawab, kepedulian, dan arti sebuah komitmen
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














