Presiden Mahasiswa ITB Dewantara Desak Penindakan Tambang Ilegal, Peringatkan Risiko Bencana di Bogor Barat

BOGORTODAY.COM Presiden Mahasiswa Institut Teknologi Bogor (ITB) Dewantara, Muhammad Raihan Fauzi, menyampaikan belasungkawa atas rangkaian bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ia menilai, bencana tersebut bukan sekadar peristiwa alam, melainkan cerminan dari kerusakan ekologis yang terjadi secara sistemik.

Raihan menegaskan, pola kerusakan lingkungan yang memicu bencana di Sumatera kini menunjukkan gejala serupa di wilayah Kabupaten Bogor, khususnya Bogor Barat.

Menurut dia, banjir bandang di Aceh Tenggara, longsor di Sumatera Utara, serta galodo di Sumatera Barat merupakan dampak langsung dari eksploitasi alam yang tidak terkendali.

“Duka saudara kita di Sumatera adalah akibat nyata dari hutan yang dikuliti dan gunung yang dikeruk. Ketika fungsi lindung kalah oleh syahwat eksploitasi, alam akan mencari jalannya sendiri untuk ‘menyapa’ manusia melalui bencana,” ujar Raihan dalam keterangan tertulisnya.

BACA JUGA :  SpongeBob SquarePants Hadir dengan Musim Ke-17, Petualangan di Bikini Bottom Berlanjut pada 2026

Ia juga memberikan peringatan keras terkait kondisi lingkungan di Bogor Barat. Maraknya pembukaan lahan tanpa kendali serta aktivitas tambang ilegal dinilai telah menempatkan ribuan warga dalam ancaman bencana serius.

“Apa yang terjadi di Sumatera adalah ‘trailer’ bagi Bogor Barat. Tambang ilegal yang merobek perut bumi dan pembukaan lahan tanpa kajian telah menelanjangi perbukitan. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin Bogor Barat akan mengalami banjir bandang dan longsor dengan skala yang lebih mengerikan,” katanya.

Raihan menguraikan sedikitnya tiga faktor krusial yang memperkuat korelasi ancaman bencana di Bogor Barat. Pertama, kemiripan kondisi topografi berupa wilayah perbukitan yang labil, sebagaimana daerah-daerah terdampak longsor di Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Kedua, kerusakan daerah aliran sungai (DAS) akibat tambang ilegal dan pembukaan lahan, yang berpotensi memperparah banjir kiriman ke wilayah hilir, termasuk Kota Bogor dan kawasan Tangerang. Ketiga, lemahnya penegakan hukum terhadap praktik mafia lahan dan tambang ilegal, yang dinilai mengulang kelalaian serupa dengan kasus di Aceh dan Sumatera Utara.

BACA JUGA :  Mitsubishi Siapkan Generasi Baru Xpander, Masuk Daftar 13 Model yang Akan Diluncurkan Hingga 2030

Melalui pernyataan tersebut, mahasiswa mendesak Pemerintah Kabupaten Bogor, aparat penegak hukum, serta Pemerintah Kota Bogor untuk mengambil langkah tegas dan terkoordinasi.

Desakan itu mencakup penutupan dan penindakan menyeluruh terhadap tambang ilegal, moratorium izin pembukaan lahan skala besar di kawasan tangkapan air Bogor Barat, serta pelaksanaan audit lingkungan lintas wilayah secara kolektif.

“Bencana tidak mengenal batas administrasi. Karena itu, Pemkot dan Pemkab Bogor harus bersinergi,” ujar Raihan.

Ia menegaskan, mahasiswa tidak akan tinggal diam menyaksikan kerusakan lingkungan yang mengancam keselamatan warga. “Kami berdiri bersama rakyat Bogor yang setiap hari hidup di bawah bayang-bayang longsor. Sebelum duka Sumatera berpindah ke Bogor, pencegahan harus dilakukan bersama,” tutupnya.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================