Rahasia Panjang Umur Orang Jepang, Bukan Sekadar Faktor Genetik

Pendekatan preventif juga terlihat dari kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, termasuk pemeriksaan otak. Jepang memiliki angka aneurisma serebral yang relatif tinggi, sehingga deteksi dini menjadi hal penting.

Banyak warga menjalani pemindaian otak secara berkala, bahkan tanpa gejala. Jika ditemukan masalah, penanganan dilakukan lebih awal sebelum berkembang menjadi kondisi berbahaya. Menariknya, usia lanjut bukan penghalang untuk menjalani tindakan medis jika dinilai dapat meningkatkan kualitas hidup.

Kemandirian yang Membentuk Ketahanan Tubuh

Kemandirian menjadi nilai penting dalam kehidupan masyarakat Jepang, termasuk saat menjalani perawatan medis. Pasien tetap didorong untuk bergerak, berjalan sendiri, dan mengurus kebutuhannya sebisa mungkin meski sedang dirawat.

BACA JUGA :  Pembebasan Lahan Jalan Rancabungur-Leuwiliang Butuh Anggaran Rp50 Miliar

Menurut Dr. Srinivasan, pendekatan ini membantu mempercepat pemulihan, menjaga kekuatan otot, serta membangun kepercayaan diri. Tubuh yang terus digunakan akan lebih tahan terhadap penurunan fungsi akibat penuaan.

Otak Harus Terus Diasah

Dari sisi neurologi, aktivitas mental berperan besar dalam menjaga kesehatan otak. Di Jepang, lansia tetap aktif secara intelektual—belajar hal baru, bekerja paruh waktu, membaca, atau terlibat dalam kegiatan sosial.

Prinsipnya sederhana: otak yang terus digunakan akan tetap tajam. Sebaliknya, kurangnya stimulasi mental dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif.

Namun, Dr. Srinivasan juga mengingatkan adanya sisi lain yang perlu diperhatikan. Tingginya angka bunuh diri di Jepang menunjukkan adanya tekanan emosional yang tidak selalu terlihat. Hal ini menandakan pentingnya keseimbangan antara kemandirian, kesehatan mental, dan dukungan sosial.

BACA JUGA :  Tanda Kolagen Menurun pada Kulit dan Faktor yang Mempercepat Penuaan Wajah

Kunci Hidup Panjang: Seimbang dan Berkelanjutan

Menurut Dr. Srinivasan, dunia dapat belajar banyak dari Jepang—mulai dari disiplin, pola hidup aktif, hingga fokus pada pencegahan penyakit. Namun, ia menekankan bahwa semua itu harus dibarengi dengan dukungan emosional dan hubungan sosial yang sehat.

Pendekatan holistik yang menggabungkan kesehatan fisik, mental, dan sosial diyakini menjadi kunci hidup lebih panjang, lebih sehat, dan tetap mandiri hingga usia lanjut.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================