
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan ghrelin membuat otak lebih sensitif terhadap rasa manis, sehingga makanan bergula terasa lebih memuaskan secara emosional.
- Kurang tidur memicu keinginan gula
Kurang tidur berdampak besar pada keseimbangan hormon tubuh. Saat kualitas tidur menurun, produksi ghrelin meningkat, sementara hormon leptin—yang memberi sinyal kenyang—justru menurun.
Kondisi ini membuat seseorang merasa lebih lapar dan cenderung mencari makanan tinggi gula sebagai sumber energi cepat. Selain itu, kurang tidur juga mengganggu sensitivitas insulin, sehingga tubuh lebih mudah “meminta” asupan gula untuk mempertahankan energi.
- Terjebak dalam siklus kecanduan gula
Kebiasaan mengonsumsi makanan manis setiap pagi dapat membentuk pola yang sulit diputus. Gula merangsang pusat penghargaan di otak dengan melepaskan dopamin, zat kimia yang menimbulkan rasa senang.
Semakin sering gula dikonsumsi, semakin kuat dorongan untuk mengulanginya. Akibatnya, tubuh seolah “menagih” rasa manis setiap pagi, meski sebenarnya tidak benar-benar membutuhkannya.
Memahami penyebab di balik keinginan sarapan manis merupakan langkah awal untuk membentuk pola makan yang lebih sehat.
Dengan memperbaiki kualitas tidur, mengelola stres, serta mulai mengganti makanan manis dengan sumber energi yang lebih seimbang seperti protein dan serat, keinginan tersebut perlahan dapat dikendalikan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















