
Sejak November 2025, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa subclade K menyebar cukup cepat dan menjadi varian dominan di sejumlah wilayah belahan bumi utara. Meski demikian, karakter klinisnya masih tergolong mirip dengan flu musiman pada umumnya.
Hingga Desember 2025, Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 62 kasus influenza A subclade K di Indonesia. Mayoritas kasus ditemukan di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan. Dari jumlah tersebut, sekitar 64 persen pasien adalah perempuan, sementara 35 persen lainnya merupakan anak-anak.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa hingga kini tidak ditemukan peningkatan keparahan penyakit akibat virus tersebut.
“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan subtipe lainnya. Gejala yang muncul umumnya berupa demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujarnya.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk waspada. Jika mengalami gejala flu, dianjurkan untuk beristirahat, memakai masker saat beraktivitas, serta segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan bila kondisi memburuk. Vaksinasi influenza juga disarankan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit penyerta.
Dengan langkah pencegahan yang tepat dan kewaspadaan bersama, para ahli menilai potensi lonjakan besar akibat “super flu” masih dapat dikendalikan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















