Pakar Kedokteran: Superflu Hanya Sebutan Populer, Bukan Jenis Penyakit Baru

BOGORTODAY.COM – Istilah “Superflu” belakangan ini menjadi perbincangan publik seiring meningkatnya kasus influenza. Namun, Pakar Kedokteran dari IPB University, Dr. dr. Desdiani, Sp.P., MKK., M.Sc. (MBioEt), menegaskan bahwa “Superflu” bukanlah nama penyakit baru, melainkan sebutan populer untuk menggambarkan lonjakan kasus yang disebabkan oleh strain tertentu.

Menurut Dr. Desdiani, istilah tersebut merujuk pada virus Influenza A subtipe H3N2, khususnya subklade K. Strain ini dikenal menyebar lebih cepat dan bertanggung jawab atas hampir 90 persen kasus flu terbaru yang dilaporkan.

“Istilah ini bukan klasifikasi ilmiah baru, melainkan cara untuk menyoroti perubahan perilaku virus yang terus berevolusi. Virus influenza terus bermutasi untuk menghindari sistem imun manusia, itulah mengapa vaksin flu perlu diperbarui secara berkala,” jelas Dr. Desdiani.

BACA JUGA :  7 Ciri Seseorang yang Memiliki Kesan Berkelas Tanpa Harus Mewah

Tren Kasus dan Peringatan Dini

Berdasarkan pemantauan Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS), aktivitas influenza di negara tropis seperti Indonesia mengalami fluktuasi sepanjang 2025. Puncak kasus di Asia Tenggara tercatat pada Agustus 2025 dengan dominasi subklade K.

Meskipun musim flu tahun ini datang satu bulan lebih awal dengan jumlah kasus mencapai tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2024, Dr. Desdiani menyebutkan tren tersebut sudah mulai melandai.

“Sejak pertengahan Desember 2025, jumlah kasus telah mencapai titik datar dan menurun stabil. Tingkat positivitas tes mingguan pun turun menjadi sekitar 4 persen,” paparnya.

Vaksinasi Sebagai Benteng Utama

Sebagai langkah pencegahan, Dr. Desdiani menekankan bahwa vaksinasi tetap menjadi cara paling efektif. Vaksin flu terbukti mampu menurunkan risiko rawat inap hingga 70–75 persen pada anak dan 30–40 persen pada orang dewasa.

BACA JUGA :  Ngaku Lapar, Badut Jalanan Gasak Dompet PKL Cileungsi 

Selain vaksin, ia juga mengimbau masyarakat untuk:

  • Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
  • Menggunakan masker saat merasa sakit.
  • Menjaga etika batuk dan rutin mencuci tangan.

Kelompok Berisiko Tinggi

Meskipun sebagian besar kasus flu dapat sembuh dengan sendirinya, kewaspadaan tinggi tetap diperlukan bagi kelompok rentan.

“Komplikasi serius dapat terjadi terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan tenaga kesehatan. Anak-anak rentan karena interaksi tinggi di sekolah, sementara lansia berisiko tinggi karena adanya penyakit penyerta,” tutupnya.

Bagi Halaman

Editor : Aditya Nugraha

Sumber : ipb.ac.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================