
Setelah sampel dikirim kembali ke Bumi, peneliti menemukan perubahan signifikan. Virus yang sempat tinggal di luar angkasa mampu menginfeksi bakteri lebih cepat dan mengikatnya lebih kuat. Di sisi lain, E. coli juga berevolusi dengan mengubah reseptor untuk menghalau serangan virus.
Tim kemudian menguji phage luar angkasa terhadap E. coli yang diketahui kebal antibiotik. Hasilnya mengejutkan: aktivitas virus tersebut jauh lebih tinggi dibanding phage yang diinkubasi di Bumi.
“Hasil ini menunjukkan bahwa luar angkasa bisa membantu kita meningkatkan aktivitas terapi menggunakan phage,” kata Charlie Mo dari University of Wisconsin-Madison. “Namun, ada faktor biaya mengirim phage ke luar angkasa.”
Temuan ini memberi harapan besar dalam menghadapi krisis resistensi antibiotik yang menjadi ancaman global. Namun, tantangan biaya dan logistik untuk mengirim eksperimen ke luar angkasa masih menjadi hambatan utama.
Dengan hasil penelitian ini, para ilmuwan semakin yakin bahwa ruang angkasa bukan hanya arena eksplorasi kosmos, tetapi juga laboratorium masa depan untuk menemukan solusi medis yang tak bisa dicapai di Bumi.***
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : cnbcindonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















