
Pada bagian pinggiran atap terdapat talang air yang disebut Chuizhu. Sistem ini dirancang agar air hujan tidak tertahan di atap, melainkan langsung dialirkan keluar, sehingga mengurangi risiko kerusakan struktur bangunan.
Peran Dougong sebagai Penyangga dan Seni
Ciri khas lain dari arsitektur atap China adalah penggunaan dougong, yaitu struktur penyangga dari kayu atau batu yang menopang atap. Selain berfungsi sebagai penopang, dougong sering diukir dengan motif rumit dan dekoratif.
Ukiran tersebut tidak hanya memperkuat struktur bangunan, tetapi juga menjadikan bagian atap sebagai karya seni yang mencerminkan nilai estetika dan keahlian pengrajin pada masanya.
Simbol Status pada Ujung Atap
Bagian ujung atap pelana—dinding berbentuk segitiga di atas garis atap—juga memiliki peran penting. Area ini kerap dihiasi ukiran atau lukisan dengan desain rumit yang melambangkan kekayaan dan status sosial pemilik bangunan.
Pengaruh hingga ke Jepang
Menariknya, bentuk atap tradisional China ini memiliki kemiripan dengan bangunan tradisional Jepang. Hal tersebut tidak lepas dari pengaruh budaya dan arsitektur China yang masuk ke Jepang pada era pertengahan, terutama pada masa Dinasti Tang.
Saat itu, banyak utusan Jepang yang belajar ke China dan membawa pulang konsep arsitektur tersebut. Akibatnya, bangunan bergaya Dinasti Tang banyak bermunculan di Kyoto dan wilayah lain di Jepang, dengan ciri khas bubungan atap yang menukik ke atas serta penggunaan material serupa.
Hingga kini, filosofi atap rumah China tetap menjadi simbol harmoni, keberuntungan, dan hubungan erat antara manusia dengan alam, menjadikannya salah satu warisan arsitektur paling berpengaruh di Asia Timur.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















