BOGORTODAY.COM – Arsitektur China dikenal tidak hanya menonjolkan keindahan visual, tetapi juga sarat dengan filosofi dan makna simbolis. Salah satu elemen yang paling mencerminkan hal tersebut adalah bentuk atap bangunannya.
Dalam kepercayaan masyarakat China, bagian bubungan atau nok atap memiliki peran penting karena diyakini dapat membawa keberuntungan bagi penghuninya.
Bubungan atau nok atap merupakan garis panjang di bagian paling atas atap yang menghubungkan dua sisi atap yang miring ke bawah. Secara umum, bentuk atap ini menyerupai karakter “人” (rén) yang berarti manusia atau laki-laki. Filosofi ini mencerminkan keseimbangan antara manusia, alam, dan langit.
Berbeda dengan rumah-rumah di Indonesia yang umumnya memiliki bubungan atap lurus, bubungan atap di China justru dibuat agak naik ke atas. Model atap seperti ini dikenal dengan sebutan atap Yingshan.
Bubungan Menukik ke Atas dan Makna Simbolis
Mengutip China Daily, bubungan atap Yingshan yang melengkung ke atas akan membelah menjadi dua bagian, menyerupai ekor burung layang-layang. Bentuk ini dipercaya mampu mengalirkan energi positif sekaligus menghalau nasib buruk.
Pada bangunan besar atau rumah milik kalangan berada, desain bubungan atap bahkan dibuat lebih kompleks. Selain sebagai penanda status sosial pemiliknya, bentuk tersebut juga diyakini dapat mencegah roh jahat masuk ke dalam rumah.
Makna di Balik Genteng dan Talang Air
Filosofi tidak hanya berhenti pada kerangka atap. Material genteng yang digunakan pun memiliki makna tersendiri. Di kawasan Jinjiang, China, banyak rumah kuno menggunakan genteng merah yang dipasang dengan pola melengkung dan tumpang tindih.
Pola pemasangan ini berfungsi menciptakan segel kedap air sehingga hujan tidak mudah merembes ke dalam bangunan. Menariknya, bentuk genteng ini sekilas mirip dengan genteng tradisional yang sejak lama digunakan di Indonesia.
Pada bagian pinggiran atap terdapat talang air yang disebut Chuizhu. Sistem ini dirancang agar air hujan tidak tertahan di atap, melainkan langsung dialirkan keluar, sehingga mengurangi risiko kerusakan struktur bangunan.
Peran Dougong sebagai Penyangga dan Seni
Ciri khas lain dari arsitektur atap China adalah penggunaan dougong, yaitu struktur penyangga dari kayu atau batu yang menopang atap. Selain berfungsi sebagai penopang, dougong sering diukir dengan motif rumit dan dekoratif.
Ukiran tersebut tidak hanya memperkuat struktur bangunan, tetapi juga menjadikan bagian atap sebagai karya seni yang mencerminkan nilai estetika dan keahlian pengrajin pada masanya.
Simbol Status pada Ujung Atap
Bagian ujung atap pelana—dinding berbentuk segitiga di atas garis atap—juga memiliki peran penting. Area ini kerap dihiasi ukiran atau lukisan dengan desain rumit yang melambangkan kekayaan dan status sosial pemilik bangunan.
Pengaruh hingga ke Jepang
Menariknya, bentuk atap tradisional China ini memiliki kemiripan dengan bangunan tradisional Jepang. Hal tersebut tidak lepas dari pengaruh budaya dan arsitektur China yang masuk ke Jepang pada era pertengahan, terutama pada masa Dinasti Tang.
Saat itu, banyak utusan Jepang yang belajar ke China dan membawa pulang konsep arsitektur tersebut. Akibatnya, bangunan bergaya Dinasti Tang banyak bermunculan di Kyoto dan wilayah lain di Jepang, dengan ciri khas bubungan atap yang menukik ke atas serta penggunaan material serupa.
Hingga kini, filosofi atap rumah China tetap menjadi simbol harmoni, keberuntungan, dan hubungan erat antara manusia dengan alam, menjadikannya salah satu warisan arsitektur paling berpengaruh di Asia Timur.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















