Keistimewaan Waktu Antara Maghrib dan Isya dalam Islam

BOGORTODAY.COM – Dalam Islam, terdapat sejumlah waktu istimewa yang dianjurkan untuk diisi dengan amal kebaikan. Namun, sebagian waktu tersebut kerap luput dari perhatian umat Muslim.

Salah satu waktu yang sering dilupakan adalah waktu antara salat Maghrib dan Isya. Padahal, waktu ini memiliki keutamaan besar dan dianjurkan untuk diisi dengan ibadah, khususnya salat sunnah dan amalan kebaikan lainnya.

Keistimewaan waktu antara Maghrib dan Isya ini memiliki landasan kuat dari Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalil Al-Qur’an tentang Keutamaan Waktu Malam

Salah satu dalil yang dijadikan landasan keutamaan waktu antara Maghrib dan Isya adalah firman Allah SWT dalam Surah As-Sajdah ayat 16:

تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

Tatājāfā junūbuhum ‘anil-maḍāji‘i yad‘ūna rabbahum khaufaw wa ṭama‘ā(n), wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn.

Artinya:
“Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk sholat malam), seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya), serta mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)

Ayat ini menggambarkan sifat hamba-hamba Allah yang memanfaatkan waktu malam untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah dan doa.

BACA JUGA :  MENJAGA AKIDAH ISLAM DI TENGAH BERAGAM ARUS PEMIKIRAN KEISLAMAN

Tafsir Sahabat tentang Waktu Antara Maghrib dan Isya

Dikutip dari laman Ma’had Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, sahabat Anas bin Malik RA ketika menafsirkan Surah As-Sajdah ayat 16 menjelaskan:

كَانُوا يَتَيَقَّظُونَ وَفِي رِوَايَةٍ يَتَنَفَّلُونَ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ يُصَلُّونَ

Artinya:
“Mereka memperbanyak salat sunnah antara Maghrib dan Isya.”
(HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Penjelasan ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami ayat tersebut sebagai anjuran untuk memperbanyak ibadah, khususnya salat sunnah, di waktu antara Maghrib dan Isya.

Teladan Rasulullah SAW

Dalam riwayat lain, Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Hudzaifah RA, ia berkata:

جِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْمَغْرِبَ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَامَ يُصَلِّي، فَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ

Artinya:
“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sholat Maghrib bersamanya. Setelah selesai sholat, beliau berdiri untuk sholat dan terus sholat hingga masuk waktu Isya.”
(HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil)

Hadis ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW sendiri mencontohkan pengisian waktu antara Maghrib dan Isya dengan ibadah salat.

Sholat Sunnah Antara Maghrib dan Isya (Sholat Awwabin)

BACA JUGA :  JIKA INGIN KE BAITULLAH MAKA TERLEBIH DAHULU KE MASJID

Dalam buku 33 Macam Jenis Shalat Sunnah karya Muhammad Ajib, Lc., MA, disebutkan bahwa terdapat sholat sunnah yang dikerjakan antara Maghrib dan Isya, yang dikenal dengan sholat sunnah awwabin. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat sholat ini.

Imam Asy-Syirbini, ulama mazhab Syafi’i, menyebutkan dalam kitab Mughni al-Muhtaj bahwa sholat awwabin terdiri dari enam rakaat:

“Shalat awwabin disebut juga shalat ghaflah (shalat yang sering dilalaikan), karena banyak orang lalai darinya disebabkan makan malam, tidur, dan lainnya. Shalat awwabin adalah enam rakaat antara Maghrib dan Isya. Barang siapa mengerjakannya, dicatat baginya pahala ibadah selama dua belas tahun.”

Sementara itu, Imam Ar-Ramli dalam kitab Nihayat al-Muhtaj berpendapat bahwa sholat awwabin dapat dikerjakan sebanyak dua hingga dua puluh rakaat. Ia menyebutkan bahwa enam rakaat, empat rakaat, atau dua rakaat merupakan jumlah minimal yang diriwayatkan.

Waktu antara Maghrib dan Isya merupakan salah satu waktu yang sangat dianjurkan untuk diisi dengan ibadah dan amal kebaikan.

Baik melalui salat sunnah, membaca Al-Qur’an, berzikir, maupun berdoa, seluruhnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menghidupkan waktu ini berarti meneladani amalan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================