Kecerdasan Manusia Mungkin Berasal dari Usus, Bukan Hanya Otak

Kecerdasan Manusia
Kecerdasan Manusia Mungkin Berasal dari Usus, Bukan Hanya Otak. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Pernah terpikir bahwa kecerdasan manusia mungkin tidak sepenuhnya berasal dari otak? Penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa jawabannya bisa jadi tersembunyi di usus.

Mikroba yang hidup di dalam sistem pencernaan ternyata diduga ikut membentuk cara kerja otak manusia sejak awal evolusi.

Dikutip dari laman Northwestern University, para ilmuwan menemukan bukti langsung bahwa bakteri di usus dapat memengaruhi perkembangan dan fungsi otak. Temuan ini diperoleh melalui eksperimen unik: mikroba usus dari beberapa jenis primata dipindahkan ke tikus. Hasilnya, cara kerja otak tikus tersebut mulai menyerupai otak primata asal mikroba yang ditransplantasikan.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), mikroba dari primata berotak besar seperti manusia dan monyet tupai mampu meningkatkan aktivitas jalur energi dan pembelajaran di otak. Sebaliknya, mikroba dari primata berotak lebih kecil justru memicu pola aktivitas otak yang berbeda.

Saat Otak Tikus Mulai “Berpikir” Seperti Primata

Penelitian ini dipimpin oleh Katie Amato, profesor antropologi biologi di Northwestern University. Ia bersama timnya ingin mengetahui apakah mikroba usus benar-benar dapat mengarahkan perkembangan otak lintas spesies.

BACA JUGA :  Jaro Ade Tegaskan Komitmen Pemkab Bogor Perluas Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi Pekerja Rentan

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti mentransplantasikan mikroba dari tiga jenis primata—manusia, monyet tupai, dan makaka—ke dalam tubuh tikus yang sebelumnya tidak memiliki mikroba usus sama sekali.

Hasilnya tergolong mencengangkan. Setelah delapan minggu, tikus yang menerima mikroba dari primata berotak besar menunjukkan peningkatan aktivitas gen di area otak yang berkaitan dengan pembelajaran dan produksi energi.

“Yang sangat menarik, kami dapat membandingkan data dari otak tikus dengan otak makaka dan manusia asli. Ternyata banyak pola ekspresi gen di otak tikus tersebut yang sama dengan primata sumber mikroba,” ujar Amato.

“Dengan kata lain, kami bisa membuat otak tikus menjadi seperti otak primata asal mikroba itu,” tambahnya.

Temuan ini memperkuat anggapan bahwa mikroba usus tidak hanya berperan dalam pencernaan, tetapi juga memengaruhi cara otak berpikir, belajar, dan beradaptasi.

Mikroba Usus dan Kesehatan Mental

BACA JUGA :  Sakit Perut Sebelah Kiri: Penyebab yang Perlu Diketahui

Tak hanya berkaitan dengan kecerdasan, studi ini juga membuka wawasan baru tentang gangguan perkembangan otak. Tikus yang menerima mikroba dari primata berotak kecil menunjukkan pola ekspresi gen yang mirip dengan kondisi gangguan neuropsikiatri, seperti ADHD, skizofrenia, bipolar, dan autisme.

“Penelitian ini memberi bukti bahwa mikroba dapat berperan langsung dalam membentuk fungsi otak selama masa perkembangan,” jelas Amato.

“Jika otak manusia terpapar mikroba yang tidak tepat pada awal kehidupan, arah perkembangannya bisa berubah dan berpotensi memunculkan gejala gangguan tersebut,” lanjutnya.

Temuan ini berpotensi mengubah cara pandang ilmuwan dalam memahami evolusi otak manusia. Selain itu, hasil studi ini membuka peluang besar untuk pendekatan baru dalam riset kesehatan mental, dengan menempatkan mikrobioma—komunitas mikroba kecil di dalam tubuh—sebagai faktor penting yang selama ini kerap terabaikan.

Studi tersebut dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences pada 5 Januari 2026 dengan judul “Primate gut microbiota induce evolutionarily salient changes in mouse neurodevelopment.”

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================