
BOGORTODAY.COM – Bulan Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Perubahan pola makan dan jam tidur selama berpuasa juga turut memengaruhi kondisi kulit. Tak sedikit orang mengeluhkan wajah terasa lebih kering, kusam, bahkan muncul jerawat menjelang Lebaran.
Founder DERMAVers Klinik, Dokter Lusiyanti, mengatakan dehidrasi memang menjadi persoalan utama kulit selama puasa.
“Kalau bulan Ramadan kan sudah pasti akan kekurangan cairan, kulitnya juga akan mengalami dehidrasi. Jadi sudah pasti kita mesti ekstra kasih pelembap, kemudian krim malamnya juga nggak boleh lewat,” ujar Lusiyanti saat grand opening DERMAVers Klinik Pantai Indah Kapuk, Sabtu (21/2/2026).
Dehidrasi Hambat Regenerasi Kulit
Menurut Lusiyanti, kulit yang mengalami dehidrasi akan mengalami perlambatan regenerasi sel. Turnover atau pergantian sel kulit menjadi lebih lambat dibandingkan kulit yang terhidrasi dengan baik.
Akibatnya, sel kulit mati menumpuk lebih lama dan membuat wajah tampak kusam serta kurang bercahaya.
Selain kulit kering, jerawat dan komedo juga kerap “meramaikan” wajah saat Ramadan. Penyebabnya bukan semata-mata faktor hormon, melainkan juga pola makan saat berbuka.
“Biasanya salah satunya juga jerawat. Karena kalau lagi buka puasa kan suka makan yang manis-manis. Itu menaikkan gula darah dan langsung melonjak. Itu tidak bagus untuk hormon pembentuk jerawat atau komedo,” jelasnya.
Lonjakan gula darah dapat memicu peningkatan hormon tertentu yang berperan dalam produksi minyak berlebih. Ditambah konsumsi gorengan dan makanan berlemak, pori-pori pun semakin mudah tersumbat dan memicu timbulnya jerawat.
Ia menyarankan agar urutan berbuka tidak dimulai dari makanan manis.
“Jangan start dari yang manis dulu. Mesti yang berserat dulu, kemudian protein, baru nanti yang manis. Jangan dibalik,” tegasnya.
Fokus pada Hidrasi Kulit
Untuk kulit yang sudah terlanjur kering, Lusiyanti menyarankan perawatan yang berfokus pada hidrasi, salah satunya skin booster.
“Untuk kulit kering biasanya kita anjurkan skin booster, karena hyaluronic acid sudah pasti lebih menarik air,” ujarnya.
Ia menambahkan, kulit yang sedang kering justru menjadi kontraindikasi untuk tindakan berbasis panas seperti Oligio X, salah satu metode peremajaan kulit. Dalam kondisi dehidrasi, perawatan berbasis panas sebaiknya ditunda.
“Kalau kulitnya sedang kering, jangan dulu. Jadi ke skin booster saja dulu,” katanya.
Skin booster tersedia dalam berbagai jenis, mulai dari kombinasi koktail hingga Profhilo, Plinest, Rejuran, NCTF, bahkan DNA salmon. Semua ditujukan untuk memperbaiki kualitas kulit dari dalam dengan meningkatkan kelembapan dan elastisitas.
Downtime prosedur ini relatif minim karena menggunakan jarum berukuran sangat kecil. Bekas suntikan biasanya hilang dalam dua jam, sementara hasil optimal terlihat sekitar dua minggu setelah tindakan.
Karena itu, bagi yang ingin tampil glowing saat Lebaran, ia menyarankan melakukan perawatan setidaknya dua minggu sebelum Hari Raya.
Glowing Bukan Sekadar Putih
Lusiyanti juga meluruskan anggapan bahwa glowing identik dengan kulit putih atau cerah. Menurutnya, kunci utama glowing adalah kulit yang sehat dan terhidrasi dengan baik.
Untuk masalah pigmentasi dan anti-aging, perawatan seperti Pico Majesty bisa menjadi pilihan karena fokus pada noda dan peremajaan kulit, bukan sekadar hidrasi.
“Glowing iya, karena dengan cerah bebas noda pasti lebih keluar auranya,” ujarnya.
Namun di luar perawatan klinis, kunci utama tetap ada pada rutinitas harian. Penggunaan pelembap secara rutin, terutama di malam hari, sangat penting. Selain itu, kebutuhan cairan tubuh harus tetap dipenuhi saat sahur dan berbuka agar hidrasi kulit tetap terjaga sepanjang Ramadan.
Dengan pola makan yang tepat, asupan cairan cukup, serta perawatan yang sesuai kondisi kulit, wajah tetap bisa sehat dan bercahaya hingga Hari Raya tiba.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















