
Di sinilah esensi puasa diuji. Bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan amarah dan menjaga sikap.
Puasa Melatih Kontrol Diri
Hakikat puasa adalah melatih kesabaran dan ketakwaan. Dalam kondisi lapar dan haus, seseorang diuji untuk tetap mampu mengendalikan diri.
Saat terpancing emosi, Islam mengajarkan cara sederhana namun bermakna, yakni mengingatkan diri sendiri.
“Kalau dipancing amarah, katakan saja, ‘Saya sedang berpuasa.’ Itu sebagai pengingat diri,” kata Ustaz Wahyul.
Selain itu, memperbanyak istigfar dan berwudu juga dianjurkan. Wudu bukan hanya membersihkan secara fisik, tetapi juga memberi jeda agar emosi mereda dan pikiran kembali jernih.
Langkah sederhana ini dapat menjadi benteng agar pahala puasa tidak terkikis oleh luapan emosi sesaat.
Perkara yang Dapat Menghilangkan Pahala Puasa
Ada sejumlah perbuatan yang tidak membatalkan puasa secara hukum, tetapi bisa menghapus pahalanya, antara lain:
- Berbohong.
- Namimah (mengadu domba).
- Ghibah atau menggunjing, termasuk fitnah.
- Sumpah palsu.
- Memandang lawan jenis dengan tatapan syahwat atau tidak pantas.
Perbuatan tersebut menjadi pengingat bahwa puasa bukan hanya ibadah fisik, melainkan juga ibadah lisan, hati, dan perilaku.
Menahan diri dari makan dan minum memang penting, tetapi menjaga ucapan, pikiran, serta pandangan jauh lebih menantang.
Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih tenang, bijak, dan penuh ilmu dalam menjalani ibadah.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















