
Parmar memperkirakan harga minyak bisa melonjak lebih jauh hingga mendekati bahkan melampaui US$ 100 per barel jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lama.
“Kami memperkirakan harga akan dibuka jauh lebih dekat ke US$ 100 per barel dan mungkin melebihi level tersebut jika kita melihat gangguan yang berkepanjangan di Selat,” jelasnya.
Sebagian besar pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan perusahaan perdagangan energi dilaporkan telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair melalui Selat Hormuz. Iran juga memperingatkan kapal-kapal untuk tidak melewati jalur tersebut demi alasan keamanan.
Ancaman Gangguan Pasokan 8–10 Juta Barel per Hari
Meskipun terdapat jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz, dampaknya tetap signifikan. Penutupan selat diperkirakan dapat menyebabkan hilangnya pasokan minyak mentah sebesar 8–10 juta barel per hari akibat keterlambatan pengiriman dan terbatasnya kapasitas pengalihan rute.
Ekonom energi dari Rystad Energy, Jorge Leon, menyebut sebagian aliran minyak masih bisa dialihkan melalui pipa Timur-Barat Arab Saudi serta pipa Abu Dhabi. Namun, kapasitasnya dinilai belum cukup untuk sepenuhnya menggantikan volume pengiriman yang biasanya melewati Selat Hormuz.
Dampak ke Pasar Global
Lonjakan harga minyak ini berpotensi memicu tekanan inflasi global, terutama bagi negara-negara pengimpor energi. Investor kini mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah serta respons negara-negara produsen utama minyak.
Jika ketegangan terus berlanjut dan gangguan distribusi berkepanjangan, harga minyak berisiko menembus level psikologis US$ 100 per barel, yang dapat berdampak luas pada perekonomian global.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















