
Analis dari Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menilai bahwa sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh harapan bahwa jalur energi utama di kawasan Timur Tengah akan kembali normal.
Selain faktor militer, dinamika diplomatik juga turut memengaruhi pasar energi. Sebelumnya, Trump diketahui melakukan percakapan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk membahas kemungkinan penyelesaian cepat konflik dengan Iran.
Dalam wawancara dengan CBS News, Trump bahkan menyebut operasi militer terhadap Iran hampir selesai dan berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal yang sebelumnya diprediksi memakan waktu empat hingga lima minggu.
Di sisi lain, pemerintah Israel juga memberi sinyal tidak menginginkan konflik berkepanjangan dengan Iran. Menteri luar negeri negara tersebut menyatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Amerika Serikat terkait waktu penghentian operasi militer.
Sementara itu, dalam laporan bulanan terbarunya, Energy Information Administration memperkirakan harga minyak Brent masih akan berada di atas US$95 per barel dalam dua bulan mendatang karena dampak gangguan pasokan akibat konflik Iran. Namun dalam jangka lebih panjang, harga diprediksi dapat turun hingga sekitar US$70 per barel menjelang akhir tahun.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















