Harga Minyak Dunia Jatuh Lebih dari 11 Persen, Terbesar Sejak 2022

Analis dari Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menilai bahwa sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh harapan bahwa jalur energi utama di kawasan Timur Tengah akan kembali normal.

Selain faktor militer, dinamika diplomatik juga turut memengaruhi pasar energi. Sebelumnya, Trump diketahui melakukan percakapan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk membahas kemungkinan penyelesaian cepat konflik dengan Iran.

Dalam wawancara dengan CBS News, Trump bahkan menyebut operasi militer terhadap Iran hampir selesai dan berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal yang sebelumnya diprediksi memakan waktu empat hingga lima minggu.

BACA JUGA :  Perdana, Peringatan HJB ke-544 Digelar di Citalahab Malasari

Di sisi lain, pemerintah Israel juga memberi sinyal tidak menginginkan konflik berkepanjangan dengan Iran. Menteri luar negeri negara tersebut menyatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Amerika Serikat terkait waktu penghentian operasi militer.

BACA JUGA :  Mitra MBG Tuntut Kepala BGN Baru Perkuat Regulasi dan Tata Kelola

Sementara itu, dalam laporan bulanan terbarunya, Energy Information Administration memperkirakan harga minyak Brent masih akan berada di atas US$95 per barel dalam dua bulan mendatang karena dampak gangguan pasokan akibat konflik Iran. Namun dalam jangka lebih panjang, harga diprediksi dapat turun hingga sekitar US$70 per barel menjelang akhir tahun.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================