
Sebagai langkah antisipasi lebih lanjut, Rino juga memerintahkan jajarannya untuk melakukan pengerukan sedimen pada aliran sungai guna menjaga kapasitas intake. Selain itu, kata dia, setiap manajer di unit produksi, transmisi, distribusi, hingga perawatan telah diinstruksikan untuk menyusun analisa mitigasi risiko dalam Key Performance Indicator (KPI) tahun 2026.
Perbarui RPAM Hadapi Pola Iklim Ekstrem
Dalam operasionalnya, Perumda Tirta Pakuan telah menerapkan Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) dari hulu hingga hilir. Namun, Rino menekankan pentingnya pembaruan berkala pada dokumen RPAM tersebut agar mampu beradaptasi dengan pola-pola iklim ekstrem yang mungkin terjadi.
“RPAM ini harus kita update supaya kita bisa memasukkan hal-hal yang berlaku seperti pola-pola 100 tahunan. Insyaallah, untuk dua sungai ini kita tidak mengalami kesulitan yang berarti. Sungai Ciliwung, walaupun sampai batas bawah, masih aman untuk kita ambil sekitar 600 liter per detik,” jelasnya.
Dirut Rino memastikan bahwa pengambilan air di intake tetap akan dijaga pada kapasitas aman, yaitu 600 liter per detik, untuk kemudian diolah menjadi air bersih bagi masyarakat Kota Bogor. “Langkah mitigasi ini diharapkan mampu memberikan rasa aman kepada pelanggan di tengah ancaman fenomena El Nino di masa depan,” pungkasnya.
Wartawan : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















