
Riset menunjukkan bahwa memaafkan secara drastis menurunkan keinginan seseorang untuk membalas dendam. Emosi negatif yang dipelihara terus-menerus sering kali membuat seseorang terjebak dalam lingkaran masa lalu yang buruk.
Dengan memaafkan, seseorang sebenarnya sedang mengambil langkah konkret agar hidupnya bisa terus melangkah maju tanpa terbebani oleh “sampah” emosional.
Perspektif Psikologi Positif: Lebih dari Sekadar Melupakan
Bob Enright, PhD, seorang pakar dari Universitas Wisconsin, Madison, yang telah mendalami topik ini selama tiga dekade, menyimpulkan bahwa pengampunan adalah bentuk kebajikan yang sangat kuat dalam psikologi positif. Memaafkan memberikan ruang bagi tumbuhnya hal-hal positif dalam diri, seperti:
- Peningkatan rasa empati.
- Munculnya kasih sayang dan pengertian.
- Ketenangan batin yang lebih stabil.
Catatan Penting: Memaafkan Bukan Berarti Membenarkan
Perlu digarisbawahi bahwa memaafkan tidak sama dengan menoleransi kejahatan atau mengabaikan keadilan hukum. Memberikan maaf adalah proses internal untuk menyembuhkan diri sendiri.
Pakar menegaskan bahwa memaafkan tidak berarti korban harus kembali menjalin hubungan atau berdamai dengan pelaku yang masih berpotensi membahayakan (seperti pada kasus pelecehan atau kekerasan). Pengampunan adalah tentang melepaskan belenggu emosional di dalam diri, sementara keadilan tetap harus berjalan pada porsinya.
Menjadikan Lebaran sebagai momentum untuk memaafkan bukan hanya soal menjalankan tradisi, tetapi juga sebuah upaya sadar untuk mencintai diri sendiri. Dengan memaafkan, kita tidak sedang membebaskan pelaku dari kesalahannya, melainkan membebaskan hati kita dari beban yang memberatkan langkah menuju masa depan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















