
Salah satu yang paling disorot adalah Mohammad Mehdi Tehranchi, seorang fisikawan teoretis sekaligus ilmuwan nuklir yang berperan penting di Shahid Beheshti University. Ia dilaporkan tewas pada awal konflik yang dikenal sebagai perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025.
Pihak universitas mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan terhadap kebebasan berpikir serta dunia akademik secara keseluruhan. Mereka juga mengajak komunitas akademik global untuk meningkatkan perhatian terhadap situasi yang terjadi.
Fasilitas Kesehatan Ikut Terdampak
Dampak serangan tidak berhenti pada sektor pendidikan. Beberapa fasilitas kesehatan juga mengalami kerusakan serius. Pasteur Institute of Iran dilaporkan tidak lagi dapat beroperasi secara optimal setelah mengalami kerusakan signifikan. Padahal, lembaga ini memiliki peran penting dalam penanganan penyakit menular, produksi vaksin, serta layanan diagnostik.
Selain itu, serangan juga menyasar rumah sakit, termasuk Rumah Sakit Jiwa Delaram Sina, serta perusahaan farmasi di sekitar Teheran. Pemerintah Iran menilai serangan tersebut bertujuan mengganggu distribusi obat-obatan, sementara pihak Israel mengklaim fasilitas tertentu memiliki keterkaitan dengan pengembangan senjata.
Dampak Kemanusiaan dan Kecaman Hukum
Hingga April 2026, otoritas Iran melaporkan lebih dari 2.000 korban jiwa akibat serangan yang juga menghancurkan rumah, sekolah, serta berbagai fasilitas publik lainnya.
Situasi ini memicu reaksi dari kalangan internasional. Lebih dari 100 pakar hukum di Amerika Serikat menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap dampak serangan terhadap warga sipil. Mereka menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar hukum hak asasi manusia internasional serta hukum humaniter internasional, dan memperingatkan risiko meningkatnya krisis kemanusiaan di kawasan tersebut.
Serangan terhadap institusi pendidikan dan fasilitas kesehatan tidak hanya berdampak pada korban jiwa dan kerusakan fisik, tetapi juga mengancam masa depan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.
Di tengah konflik yang terus berlangsung, seruan untuk melindungi warga sipil dan menjaga netralitas institusi pendidikan semakin menguat dari berbagai pihak di dunia.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















