
Miskonsepsi umum adalah menyamakan vasektomi dengan kebiri. Padahal keduanya berbeda dari tujuan dan efeknya.
Nur Rasyid menegaskan, vasektomi hanya menutup jalur sperma, sementara fungsi testis tetap normal. Produksi hormon testosteron berjalan sebagaimana mestinya, sehingga pria masih dapat mengalami ereksi, ejakulasi, dan orgasme.
Sebaliknya, kebiri bertujuan menghentikan fungsi testis sepenuhnya, baik secara bedah maupun kimiawi. Akibatnya, hormon testosteron bisa hilang, memengaruhi libido, fungsi seksual, dan perubahan fisik lainnya.
Apakah Bisa Dibatalkan?
Secara teori, vasektomi bisa dikembalikan melalui prosedur penyambungan saluran sperma, meski tingkat keberhasilannya tidak selalu pasti dan biayanya cukup tinggi. Alternatif lain adalah program bayi tabung (IVF) dengan pengambilan sperma langsung dari testis. Oleh karena itu, vasektomi biasanya disarankan bagi pria yang sudah yakin tidak ingin memiliki anak lagi.
Prosedur ini termasuk aman, dengan efek samping umumnya ringan, seperti nyeri, bengkak, atau memar di area skrotum. Komplikasi serius jarang terjadi, hanya sekitar 1-2 persen mengalami nyeri jangka panjang. Namun, vasektomi tidak melindungi dari infeksi menular seksual (IMS), sehingga penggunaan kondom tetap dianjurkan dalam situasi tertentu.
Pilihan Pribadi yang Perlu Pertimbangan Matang
Perdebatan publik menunjukkan masih banyak kesalahpahaman tentang vasektomi. Padahal, secara medis, metode ini aman, efektif, dan tidak mengurangi kejantanan pria.
Keputusan untuk menjalani vasektomi adalah pilihan pribadi yang sebaiknya dipertimbangkan secara matang, baik dari sisi medis, perencanaan keluarga, maupun kesiapan mental. Memahami informasi yang benar membantu mengurangi stigma dan membuka ruang diskusi lebih sehat terkait kesehatan reproduksi pria.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















