
Fasilitas kesehatan di Lebanon kini berada dalam tekanan berat. Rumah sakit dipenuhi pasien dalam jumlah besar, sementara tenaga medis harus bekerja di tengah keterbatasan alat dan obat-obatan.
Banyak korban yang dibawa ke rumah sakit dalam kondisi tidak teridentifikasi, bahkan dalam bentuk potongan tubuh, menggambarkan besarnya dampak ledakan yang terjadi di kawasan permukiman.
Tenaga Medis Turut Jadi Korban
Krisis ini juga berdampak langsung pada tenaga kesehatan. Sejak eskalasi konflik meningkat, puluhan tenaga medis dilaporkan meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Kehilangan tenaga medis berdampak serius pada layanan darurat, termasuk berkurangnya kemampuan ambulans untuk menjangkau korban di lapangan.
Pasokan Medis Menipis
Upaya penanganan terus dilakukan oleh WHO bersama otoritas kesehatan setempat. Namun, tingginya jumlah korban dalam waktu singkat membuat persediaan medis cepat menipis.
Kendala logistik, termasuk terbatasnya akses transportasi ke wilayah terdampak, semakin menyulitkan distribusi bantuan tambahan. Hal ini memperburuk kondisi sistem kesehatan yang kini berada di ambang kolaps.
Krisis kemanusiaan di Lebanon menunjukkan betapa rentannya warga sipil dalam konflik bersenjata. Tanpa akses bantuan yang memadai dan penghentian kekerasan, jumlah korban dikhawatirkan terus meningkat dalam waktu dekat.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















