
Walaupun kendaraan listrik kini dikenakan pajak, terdapat kemungkinan tarif yang diberlakukan tetap lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional. Besaran pajak nantinya akan sangat bergantung pada kebijakan masing-masing daerah.
Sementara itu, Hyundai Motor Indonesia melalui Chief Operating Officer Fransiscus Soerjopranoto menilai bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampak kebijakan ini terhadap penjualan kendaraan listrik. Ia menekankan pentingnya melihat implementasi aturan terlebih dahulu sebelum menarik kesimpulan.
Menurutnya, perkembangan pasar otomotif tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan pajak, tetapi juga berbagai faktor lain seperti kondisi ekonomi global, situasi geopolitik, serta daya beli masyarakat. Oleh karena itu, analisis yang lebih komprehensif baru bisa dilakukan setelah kebijakan berjalan dalam beberapa waktu.
Di tengah perubahan regulasi ini, Hyundai memastikan tetap menjaga komunikasi dengan jaringan dealer di seluruh Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan konsumen tetap mendapatkan informasi yang jelas dan layanan yang optimal.
Menanti Dampak Nyata di Lapangan
Pengenaan PKB dan BBNKB pada kendaraan listrik menandai babak baru dalam kebijakan otomotif nasional. Meski berpotensi memengaruhi daya tarik kendaraan listrik, dampak nyatanya masih harus dilihat dalam jangka waktu ke depan.
Baik pemerintah maupun pelaku industri kini berada pada fase adaptasi. Kejelasan aturan turunan serta respons pasar akan menjadi faktor penentu arah perkembangan kendaraan listrik di Indonesia selanjutnya.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















