Partisipasi Semesta, Jalan Nyata Memperbaiki Pendidikan

Pendidikan
Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan)

Oleh : Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan)

HARI Pendidikan Nasional tahun ini mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema tersebut merupakan pesan kuat bahwa pendidikan tidak akan maju jika hanya dibebankan kepada sekolah dan pemerintah. Pendidikan yang berkualitas hanya dapat lahir melalui gotong royong seluruh elemen bangsa antara lain keluarga, guru, masyarakat, dunia usaha, media, dan negara.

Tema ini terasa sangat relevan dengan kondisi pendidikan Indonesia hari ini. Di tengah berbagai kemajuan, dunia pendidikan masih menghadapi persoalan lama dan tantangan baru sekaligus. Kesenjangan fasilitas antara sekolah di kota dan daerah terpencil masih terjadi. Masih ada anak yang putus sekolah karena tekanan ekonomi.

Pada saat yang sama, sekolah juga berhadapan dengan persoalan baru seperti distraksi gawai, menurunnya budaya membaca, perundungan, hingga kesehatan mental peserta didik.

Belakangan, publik juga disuguhkan berbagai peristiwa yang menyita perhatian. Ada kasus siswa yang kurang menghormati guru, konflik antar pelajar, hingga perilaku kekerasan yang viral di media sosial.

Peristiwa seperti ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Sekolah harus menjadi ruang pembentukan karakter, etika, disiplin, dan empati sosial.

Di sinilah makna partisipasi semesta menjadi penting. Pendidikan pertama dan utama sesungguhnya berlangsung di rumah. Orang tua tidak cukup hanya menyekolahkan anak, tetapi juga perlu hadir dalam kehidupan belajar mereka.

BACA JUGA :  Sambut Liburan Sekolah, Swiss-Belresort Dago Bandung Luncurkan Program SBEC Juniors dan Maskot Baru 'Bella

Orang perlu mendampingi anak membaca, mengawasi penggunaan gawai, menanamkan sopan santun, serta memberi teladan kejujuran adalah bentuk pendidikan yang tidak bisa digantikan sekolah. Ketika keluarga melepas tanggung jawab ini, sekolah akan memikul beban yang terlalu berat.

Di lingkungan sekolah, guru tetap menjadi ujung tombak. Namun guru juga membutuhkan dukungan nyata. Mereka memerlukan ruang mengajar yang kondusif, penghargaan sosial, peningkatan kompetensi, dan kebijakan yang berpihak.

Upaya pemerintah mendorong transformasi pendidikan melalui digitalisasi pembelajaran, revitalisasi sekolah, dan peningkatan kesejahteraan guru merupakan langkah penting yang harus dikawal agar benar-benar dirasakan sampai ke daerah.

Kebijakan pembatasan penggunaan telepon genggam bagi murid pada sekolah-sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dapat dilihat sebagai langkah strategis untuk mengembalikan fokus belajar di ruang kelas.

Kehadiran gawai yang tidak terkontrol sering kali memecah konsentrasi siswa, membuka ruang penyalahgunaan media sosial, bahkan memicu menurunnya interaksi langsung antarwarga sekolah. Dengan pembatasan yang terukur, guru dapat lebih mudah membangun perhatian siswa selama pembelajaran berlangsung.

Lebih dari itu, kebijakan tersebut juga memiliki nilai sosial yang penting. Saat jam istirahat, siswa didorong kembali bercakap, bermain, berdiskusi, dan membangun relasi nyata dengan teman-temannya, bukan sibuk masing-masing menatap layar.

Sekolah pada akhirnya bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang belajar menjadi manusia yang mampu berkomunikasi, bekerja sama, dan menghargai sesama.

BACA JUGA :  HJB Run 2026 Meriah! 200 Pelari Warnai Peresmian JPO Tegar Beriman di Kabupaten Bogor

Masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang sama besar. Lingkungan yang aman, budaya menghargai pendidikan, serta kepedulian terhadap anak-anak di sekitar akan membantu proses belajar.

Dunia usaha dapat ikut berkontribusi melalui beasiswa, pelatihan keterampilan, program magang, maupun bantuan sarana pendidikan. Media juga berperan penting dengan menghadirkan konten yang mendidik dan memberi ruang bagi diskusi publik yang sehat tentang pendidikan.

Di era kecerdasan buatan dan teknologi digital, tantangan pendidikan semakin kompleks. Teknologi bisa menjadi alat bantu belajar yang luar biasa, tetapi tanpa pendampingan juga dapat menumbuhkan ketergantungan, menurunkan daya baca, bahkan melemahkan kemampuan berpikir kritis. Karena itu, literasi digital harus menjadi bagian dari pendidikan masa kini.

Makna pendidikan bermutu untuk semua adalah tidak boleh ada anak yang tertinggal. Anak di desa harus memiliki peluang yang sama dengan anak di kota. Anak dari keluarga sederhana harus tetap bisa bercita-cita tinggi. Sekolah negeri maupun swasta harus sama-sama didorong kualitasnya. Pendidikan yang adil merupakan pondasi masa depan bangsa.

Hari Pendidikan Nasional dapat menjadi  momentum refleksi bersama,  sudahkah kita ikut mendidik, atau justru menyerahkan seluruh beban kepada sekolah? Jika partisipasi semesta benar-benar diwujudkan, maka pendidikan Indonesia tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang berkarakter, beradab, sehat jiwanya, dan siap menghadapi masa depan.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================