
Dalam Islam, kejelasan menjadi syarat utama dalam penetapan mahar. Mahar yang tidak jelas bentuknya, tidak dapat diserahkan, atau tidak memiliki nilai dianggap tidak sah menurut syariat.
Jika terjadi kondisi seperti itu, maka istri berhak memperoleh Mahar mitsl, yaitu mahar yang nilainya disesuaikan dengan perempuan lain yang memiliki status sosial dan kondisi serupa.
Penentuan mahar mitsl biasanya mempertimbangkan beberapa faktor, seperti usia, pendidikan, kondisi ekonomi, status keluarga, hingga tingkat religiositas.
Bentuk Mahar yang Tidak Diperbolehkan
Tidak semua jenis mahar dibenarkan dalam Islam. Mayoritas ulama melarang mahar yang berasal dari barang haram, sesuatu yang tidak jelas manfaatnya, atau mahar yang mengandung unsur penipuan dan ketidakjelasan.
Selain itu, mahar yang dicampur dengan transaksi lain tanpa kejelasan, bergantung pada syarat tertentu, atau melibatkan pihak ketiga juga menjadi perdebatan di kalangan ulama.
Prinsip utama dalam mahar tetap mengacu pada nilai kehalalan, kejelasan, dan kemampuan untuk diserahkan kepada istri secara sah.
Pada akhirnya, mahar ideal bukanlah yang paling mahal atau paling mewah. Islam lebih menekankan pada kesepakatan bersama, kemudahan, dan ketulusan dalam pemberian.
Mahar yang sederhana tetapi diberikan dengan ikhlas dinilai lebih baik dibanding mahar besar yang justru memberatkan calon suami. Karena itu, banyak ulama menganjurkan agar mahar tidak dijadikan ajang gengsi, melainkan simbol kasih sayang dan tanggung jawab dalam pernikahan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















