
“Ada korelasi antara pria yang rutin ngegym sambil mengonsumsi obat hormonal dengan risiko kanker payudara,” jelas Feyona.
- Paparan radiasi
Terpapar radiasi dalam jangka panjang juga bisa meningkatkan risiko.
- Penggunaan obat peningkat massa otot
Beberapa pria mengonsumsi suplemen tertentu tanpa pengawasan medis, yang dapat memengaruhi jaringan payudara.
Selain itu, kanker payudara pada pria sering terdeteksi terlambat. Banyak pria mengira benjolan di dada hanyalah cedera otot atau efek benturan biasa.
Gejala Awal yang Sering Diabaikan
Kanker payudara pada pria umumnya diawali dengan:
- Benjolan kecil di area dada
- Tidak terasa sakit pada tahap awal
- Kulit di sekitar benjolan lama-kelamaan mengencang
- Rasa nyeri muncul seiring perkembangan kanker
“Banyak yang menyepelekan karena merasa itu hanya benjolan biasa. Padahal itu bisa menjadi tanda awal kanker payudara,” kata Feyona.
Pengobatan Sama dengan Pasien Perempuan
Metode pengobatan kanker payudara pada pria tidak berbeda dengan perempuan:
- Operasi pengangkatan kanker
- Kemoterapi (jika kanker bersifat ganas)
- Radioterapi untuk membunuh sel kanker yang tersisa
“Tingkat bahayanya sama saja antara pria dan perempuan. Yang membedakan adalah stadium dan jenis sel kankernya,” tegasnya.
Periksa Dini untuk Tingkatkan Peluang Sembuh
Feyona mengimbau agar pria tidak menyepelekan perubahan pada area dada. Bila muncul benjolan yang tidak wajar, segera lakukan pemeriksaan ke dokter.
“Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang sembuh. Jangan menunggu sampai benjolan membesar atau terasa nyeri,” pesannya.
Kanker payudara bukan hanya penyakit perempuan. Pria pun bisa mengalaminya—dan karena sering terlambat terdeteksi, justru risikonya bisa lebih besar. Mengenali gejalanya lebih awal adalah langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















