Telur Ceplok atau Telur Dadar? Ini Penjelasan Gizi di Balik Sorotan Presiden Prabowo pada Program MBG

Telur Ceplok
Telur Ceplok atau Telur Dadar. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadikan telur sebagai salah satu menu andalan untuk memenuhi kebutuhan protein anak-anak Indonesia. Selain mudah diperoleh, telur juga dikenal sebagai sumber protein hewani yang berkualitas dengan harga yang relatif terjangkau.

Namun, dalam sebuah kesempatan, Presiden Prabowo Subianto menyoroti cara penyajian telur dalam program tersebut. Ia mengingatkan agar telur tidak diolah menjadi telur dadar yang dicampur terlalu banyak bahan tambahan, terutama tepung, karena dikhawatirkan dapat mengurangi manfaat gizi yang diterima anak-anak.

Pernyataan tersebut memunculkan diskusi di masyarakat mengenai perbedaan kandungan gizi antara telur ceplok dan telur dadar. Apakah benar telur ceplok lebih baik dari sisi nutrisi?

BACA JUGA :  Warga Malasari Sumringah, Puncak HJB ke-544 Dongkrak Perekonomian

Telur Tetap Menjadi Sumber Protein Berkualitas

Telur merupakan salah satu bahan pangan dengan kandungan gizi yang sangat lengkap. Dalam satu butir telur ayam terkandung protein berkualitas tinggi yang penting untuk pertumbuhan, pembentukan jaringan tubuh, serta perkembangan otak anak.

Selain protein, telur juga mengandung berbagai vitamin dan mineral seperti vitamin A, vitamin D, vitamin B12, zat besi, dan kolin yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh.

Pada dasarnya, proses memasak telur menjadi telur ceplok maupun telur dadar tidak menghilangkan kandungan protein utamanya. Selama jumlah telur yang digunakan sama, nilai protein yang diperoleh juga tidak jauh berbeda.

BACA JUGA :  7 Ciri Seseorang yang Memiliki Kesan Berkelas Tanpa Harus Mewah

Peran Tepung dalam Telur Dadar

Perbedaan mulai terlihat ketika telur dadar dicampur dengan bahan tambahan dalam jumlah besar, terutama tepung. Penambahan tepung memang dapat membuat ukuran makanan menjadi lebih besar dan terasa lebih mengenyangkan.

Namun, tepung sebagian besar menyumbang karbohidrat, bukan protein hewani. Akibatnya, jika jumlah telur yang digunakan sedikit lalu dicampur banyak tepung dan dibagi ke lebih banyak porsi, kandungan protein yang diterima setiap anak menjadi lebih rendah.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================