
“Harapannya, masjid di mana pun berada dapat mandiri secara ekonomi, sementara kaum perempuan juga terus berdaya. Di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan, kami mencoba membuka lapangan pekerjaan baru. Melalui fasilitas ini, jemaah yang hendak menunaikan salat bisa sekaligus menyemir sepatunya. Seluruh pendapatan dari kios ini akan dialokasikan penuh untuk kas pengurus masjid dan marbot,” jelas Dewi.
DMI dan DPRD Dorong Masjid Jadi Pusat Peradaban Umat
Inovasi tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Ketua DMI Kabupaten Bogor, H. Tb. Irwan Kurniawan. Menurutnya, gerakan inklusif ini menjadi mercusuar pemersatu organisasi muslimah yang selama ini cenderung berjalan sendiri-sendiri.
Irwan juga sepakat bahwa kehadiran unit usaha semir sepatu ini mengembalikan fungsi hakiki masjid yang tidak hanya sebatas tempat ibadah ritual (mahdhah).
“Selama ini masyarakat menganggap masjid hanya untuk salat, mengaji, dan zikir. Padahal, masjid memiliki peran krusial sebagai pusat pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan umat. Bantuan alat semir sepatu dari Alisa Khadijah ini menjadi stimulan bagus untuk pemberdayaan ekonomi para marbot masjid,” terang Irwan.
Dukungan serupa datang dari parlemen. Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Bogor, H. Agus Salim, yang hadir mewakili Pemerintah Daerah, mengaku bersyukur melihat kekompakan jemaah. Fenomena unik terlihat saat kajian, di mana tiap kontingen majelis taklim mengenakan warna kerudung yang berbeda namun tetap berbaur dalam satu saf yang sama.
“Warna-warni jilbab yang berbeda ini justru menunjukkan harmoni dan kekompakan. Kami berharap kaum muslimah di Kabupaten Bogor terus berdaya, berkarya, dan konsisten memberikan kontribusi terbaiknya bagi akselerasi pembangunan daerah,” pungkas Agus Salim.















