Turun Berat Badan Secara Instan Belum Tentu Sehat, Dokter Ungkap Risiko yang Mengintai

Berat Badan
Turun Berat Badan Secara Instan Belum Tentu Sehat, Dokter Ungkap Risiko yang Mengintai. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Keinginan memiliki berat badan ideal membuat banyak orang tergoda mencoba berbagai produk pelangsing yang menjanjikan hasil cepat. Mulai dari pil diet, minuman penurun berat badan, suplemen berbentuk gummy, hingga program di klinik pelangsing kerap menawarkan penurunan berat badan dalam waktu singkat.

Namun, di balik hasil yang tampak menggiurkan, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa penurunan berat badan yang terlalu drastis tidak selalu menandakan keberhasilan. Justru, kondisi tersebut dapat membawa risiko kesehatan yang tidak sedikit.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dicky Levenus Tahapary, menjelaskan bahwa proses menurunkan berat badan idealnya dilakukan secara bertahap dan terukur.

Menurutnya, berat badan manusia terdiri dari berbagai komponen, seperti lemak, otot, tulang, dan cairan tubuh. Ketika berat badan turun secara cepat, yang sering kali berkurang bukan hanya lemak, melainkan juga cairan tubuh dan massa otot.

Berat Badan Turun Cepat Belum Tentu Lemak Berkurang

Dicky menjelaskan, sejumlah produk pelangsing bekerja dengan cara meningkatkan pengeluaran cairan tubuh melalui urine. Efek ini memang membuat angka timbangan turun dalam waktu singkat, tetapi tidak serta-merta menunjukkan berkurangnya lemak tubuh.

Selain kehilangan cairan, penurunan berat badan yang terlalu cepat juga berisiko mengurangi massa otot. Padahal, otot memiliki peran penting dalam menjaga metabolisme tubuh tetap optimal.

BACA JUGA :  PMB Sekolah Swasta Gratis Jakarta 2026 Resmi Dibuka, Simak Syarat, Jadwal, dan Cara Pendaftarannya

Ketika massa otot menurun, kemampuan tubuh membakar kalori juga ikut berkurang. Akibatnya, berat badan berpotensi kembali naik dengan lebih cepat ketika pola makan kembali seperti semula.

Penggunaan Obat Pelangsing Harus Sesuai Indikasi

Dicky juga mengingatkan bahwa beberapa metode penurunan berat badan yang dilakukan tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan efek samping. Salah satunya adalah penggunaan hormon tiroid yang sebenarnya memiliki fungsi tertentu dalam dunia medis.

Hormon ini memang mampu meningkatkan metabolisme tubuh sehingga berat badan bisa turun lebih cepat. Namun, efeknya tidak hanya mengurangi lemak, tetapi juga dapat menggerus massa otot yang dibutuhkan tubuh.

Karena itu, keberhasilan program diet seharusnya tidak hanya diukur dari angka timbangan. Pemeriksaan komposisi tubuh perlu dilakukan untuk mengetahui apakah yang berkurang adalah lemak, otot, atau hanya cairan.

Hanya Tiga Obat Obesitas yang Disetujui di Indonesia

Dalam praktik medis, Indonesia saat ini hanya memiliki tiga jenis obat yang telah mendapat persetujuan untuk membantu penanganan obesitas. Ketiganya pun hanya boleh digunakan berdasarkan resep serta pengawasan dokter.

Obat pertama adalah diethylpropion yang bekerja menekan nafsu makan. Kedua, orlistat, yang membantu menghambat penyerapan lemak di saluran pencernaan. Sementara yang ketiga adalah kelompok GLP-1, yang juga berfungsi mengendalikan rasa lapar.

BACA JUGA :  Menag Usulkan Tambahan Anggaran Rp 41,89 Triliun untuk Perkuat Layanan Pendidikan dan Keagamaan

Di luar ketiga jenis tersebut, masyarakat perlu berhati-hati terhadap berbagai produk yang mengklaim mampu menurunkan berat badan secara cepat tanpa penjelasan medis yang jelas.

Dicky menilai penting bagi pasien untuk aktif bertanya kepada tenaga kesehatan mengenai jenis obat yang diberikan, manfaatnya, serta kemungkinan efek samping yang dapat muncul.

Target Diet Ideal: Turun Perlahan tapi Konsisten

Para ahli menekankan bahwa tujuan utama program penurunan berat badan adalah mengurangi massa lemak tubuh, bukan sekadar menurunkan angka di timbangan.

Penurunan berat badan yang terlalu cepat dapat memicu peningkatan hormon stres dan peradangan dalam tubuh. Sebaliknya, pengurangan lemak secara bertahap memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar, seperti menurunkan risiko diabetes, tekanan darah tinggi, dan perlemakan hati.

Sebagai acuan, penurunan berat badan sekitar 5 persen dari total berat badan dalam tiga bulan sudah termasuk hasil yang baik. Misalnya, seseorang dengan berat badan 80 kilogram cukup menargetkan penurunan sekitar 4 kilogram dalam tiga bulan atau sekitar 1 kilogram per bulan.

Dengan kata lain, menurunkan berat badan secara perlahan namun konsisten jauh lebih aman dan efektif dibanding mengejar hasil instan yang berisiko mengganggu kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================