Mengenal Curling Parenting, Pola Asuh yang Terlalu Melindungi Anak dari Berbagai Masalah

BOGORTODAY.COM – Setiap orang tua tentu menginginkan anak tumbuh dengan bahagia, aman, dan terhindar dari berbagai kesulitan. Namun, niat baik tersebut terkadang membuat sebagian orang tua terlalu banyak mengambil alih persoalan yang seharusnya dapat dihadapi anak sendiri. Pola pengasuhan seperti ini dikenal dengan istilah curling parenting.

Belakangan, istilah tersebut semakin sering dibahas dalam dunia parenting karena dinilai memiliki dampak positif sekaligus negatif terhadap perkembangan anak. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan curling parenting?

Apa Itu Curling Parenting?

Istilah curling parenting berasal dari olahraga curling. Dalam permainan tersebut, pemain menyapu permukaan es di depan batu yang meluncur agar jalannya tetap mulus tanpa hambatan.

Konsep yang sama kemudian digunakan untuk menggambarkan gaya pengasuhan di mana orang tua berusaha “membersihkan” setiap rintangan yang mungkin dihadapi anak. Mulai dari menyelesaikan masalah, menghindarkan anak dari kegagalan, hingga mengambil keputusan yang seharusnya bisa dipelajari anak sendiri.

Menurut psikolog klinis Laura Anderson, pola asuh ini muncul karena keinginan orang tua untuk melindungi anak dari rasa kecewa, kesalahan, maupun pengalaman yang dianggap menyakitkan.

Sekilas, perhatian tersebut terlihat sebagai bentuk kasih sayang. Namun jika dilakukan secara terus-menerus, anak berpotensi kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi tantangan kehidupan.

Tanda-Tanda Orang Tua Menerapkan Curling Parenting

Ada beberapa kebiasaan yang umum ditemukan pada orang tua dengan pola asuh ini, di antaranya:

  1. Terlalu Cepat Menolong Anak
BACA JUGA :  Orang Tua Wajib Tahu, Ini Jarak Aman Anak Menonton TV dan Dampaknya bagi Kesehatan Mata

Ketika anak mengalami kesulitan, orang tua langsung turun tangan sebelum anak memiliki kesempatan mencoba menyelesaikannya sendiri.

Akibatnya, anak tidak terbiasa berpikir mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

  1. Selalu Berusaha Menghindarkan Anak dari Kegagalan

Kesalahan dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Orang tua berusaha memastikan anak selalu berhasil sehingga mereka jarang merasakan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.

Padahal, kegagalan merupakan bagian penting dalam proses belajar.

  1. Mengendalikan Banyak Keputusan Anak

Mulai dari menentukan kegiatan ekstrakurikuler, memilih hobi, hingga mengambil keputusan penting dalam kehidupan anak, semuanya lebih banyak ditentukan oleh orang tua.

Anak akhirnya memiliki ruang yang terbatas untuk belajar membuat pilihan sendiri.

  1. Takut Anak Menghadapi Risiko

Orang tua cenderung melarang anak mencoba pengalaman baru karena khawatir mereka akan gagal atau merasa kecewa.

Sikap ini memang bertujuan melindungi, tetapi dapat menghambat keberanian anak dalam mengeksplorasi potensi dirinya.

Sisi Positif Curling Parenting

Meski sering mendapat kritik, pola asuh ini tetap memiliki beberapa manfaat jika diterapkan secara proporsional.

Anak umumnya akan merasa lebih aman karena mengetahui orang tua selalu siap membantu ketika dibutuhkan. Selain itu, keterlibatan orang tua yang tinggi juga membuat mereka lebih memahami perkembangan pendidikan maupun aktivitas anak.

BACA JUGA :  Kesempatan Emas untuk Guru Indonesia, Program Pertukaran Pendidikan ke Jepang Dibuka Tahun 2026

Dalam kondisi tertentu, campur tangan orang tua juga mampu mencegah anak mengambil keputusan yang benar-benar berisiko bagi keselamatan atau masa depannya.

Dampak Negatif yang Perlu Diwaspadai

Di balik niat melindungi anak, curling parenting juga dapat menimbulkan sejumlah konsekuensi yang kurang baik apabila dilakukan secara berlebihan.

Anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang kurang mandiri karena terbiasa mengandalkan bantuan orang tua. Mereka juga berisiko memiliki rasa percaya diri yang rendah lantaran jarang diberi kesempatan membuktikan kemampuannya sendiri.

Selain itu, ketika menghadapi tantangan nyata di masa depan, anak cenderung lebih mudah stres atau frustrasi karena belum terbiasa menghadapi kegagalan dan menyelesaikan masalah secara mandiri.

Ketergantungan terhadap orang tua pun dapat terus terbawa hingga usia dewasa.

Berikan Perlindungan, Tetapi Tetap Beri Kesempatan Belajar

Melindungi anak merupakan tanggung jawab setiap orang tua. Namun, perlindungan yang berlebihan justru dapat menghambat proses pendewasaan mereka.

Memberikan ruang bagi anak untuk mengambil keputusan sesuai usianya, belajar dari kesalahan, serta menghadapi tantangan secara bertahap akan membantu membentuk karakter yang lebih tangguh, mandiri, dan percaya diri.

Dengan keseimbangan antara pendampingan dan kebebasan belajar, anak tidak hanya merasa dicintai, tetapi juga memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi berbagai situasi dalam kehidupannya kelak.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================