Perlemakan Hati Tak Hanya Dipicu Pola Makan, Dokter Ungkap Peran Genetik hingga Polusi Udara

Perlemakan Hati
Perlemakan Hati Tak Hanya Dipicu Pola Makan, Dokter Ungkap Peran Genetik hingga Polusi Udara. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM Perlemakan hati atau fatty liver kerap dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan kalori. Meski pola makan memang menjadi salah satu faktor utama, para ahli menegaskan bahwa penyebab penyakit ini jauh lebih kompleks.

Aktivitas fisik, kondisi metabolik, kualitas tidur, faktor genetik, hingga lingkungan ternyata turut memengaruhi risiko seseorang mengalami penumpukan lemak di organ hati.

Secara umum, risiko perlemakan hati lebih tinggi pada orang yang mengalami kelebihan berat badan, obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, maupun kadar kolesterol yang tidak terkontrol.

Namun, tingkat keparahan penyakit ini bisa berbeda pada setiap individu, meskipun memiliki gaya hidup yang tampak serupa.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Rino Alvani Gani, menjelaskan bahwa makanan bukan satu-satunya penyebab terjadinya penumpukan lemak di hati.

BACA JUGA :  Sering Begadang? Ini 9 Dampak Buruk yang Bisa Mengancam Kesehatan Tubuh

Menurutnya, banyak faktor lain yang ikut berkontribusi, seperti aktivitas fisik, kondisi metabolik tubuh, faktor keturunan, hingga pola tidur seseorang.

Perlemakan hati tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimakan. Aktivitas sehari-hari, metabolisme tubuh, genetik, dan kualitas tidur juga memiliki pengaruh terhadap munculnya kondisi tersebut,” jelasnya dalam Diskusi Media Global Fatty Liver Day 2026 di Jakarta.

Aktivitas Fisik Berpengaruh Besar

Rino menuturkan bahwa olahraga memiliki peran penting dalam mengurangi risiko penumpukan lemak di hati. Dua orang yang mengonsumsi makanan dalam jumlah sama belum tentu memiliki kondisi hati yang sama apabila tingkat aktivitas fisiknya berbeda.

Seseorang yang rutin berolahraga cenderung memiliki risiko lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang bergerak. Hal ini menunjukkan bahwa keseimbangan antara asupan energi dan aktivitas tubuh menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan hati.

BACA JUGA :  Kondisi Terkini Bendung Katulampa Bogor, Tinggi Muka Air Sungai Ciliwung Surut Drastis

Mikrobiota Usus Ikut Menentukan

Penelitian terbaru juga mengungkap adanya hubungan erat antara kesehatan usus dan fungsi hati. Mikrobiota atau kumpulan bakteri baik yang hidup di saluran pencernaan ternyata berperan dalam proses munculnya perlemakan hati.

Hubungan tersebut dikenal sebagai gut-liver axis, yaitu jalur komunikasi antara usus dan hati. Ketika keseimbangan bakteri di usus terganggu, risiko penumpukan lemak dan peradangan pada hati dapat meningkat.

Temuan ini memperkuat anggapan bahwa menjaga kesehatan saluran pencernaan tidak hanya penting untuk sistem pencernaan, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan organ hati.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================