
Mereka lebih suka mengamati situasi terlebih dahulu sebelum mulai berinteraksi. Tak jarang mereka terlihat pemalu, enggan berpisah dari orang tua, atau menolak mencoba aktivitas baru.
Hal ini bukan berarti mereka tidak mampu, melainkan membutuhkan rasa aman sebelum beradaptasi.
- Mudah Frustrasi Saat Menghadapi Kesulitan
Anak dengan sensitivitas tinggi biasanya memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap rasa frustrasi.
Saat belajar keterampilan baru, seperti mengendarai sepeda, menyusun puzzle, atau mengerjakan tugas yang sulit, mereka dapat lebih cepat merasa putus asa apabila hasilnya belum sesuai harapan.
Karena itu, mereka membutuhkan dorongan dan dukungan yang konsisten agar tetap percaya diri.
- Sulit Menerima Kritik dan Cenderung Perfeksionis
Banyak anak sensitif memiliki standar yang tinggi terhadap dirinya sendiri. Mereka ingin melakukan segala sesuatu dengan sebaik mungkin.
Ketika menerima kritik atau koreksi, mereka sering kali menganggapnya sebagai penilaian terhadap diri mereka, bukan sebagai masukan untuk berkembang.
Akibatnya, mereka bisa merasa sedih, kecewa, bahkan menarik diri. Sifat perfeksionis ini juga membuat mereka lebih sulit menerima kegagalan dibandingkan anak seusianya.
Orang Tua Perlu Memberikan Dukungan yang Tepat
Memiliki anak yang sensitif bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan. Justru, dengan pendampingan yang tepat, karakter tersebut dapat berkembang menjadi kelebihan, seperti empati tinggi, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan memahami perasaan orang lain.
Yang terpenting, orang tua tidak terburu-buru memberi label negatif seperti “cengeng” atau “manja”. Sebaliknya, berikan ruang bagi anak untuk mengenali emosinya, bantu mereka mengelola perasaan dengan tenang, serta ciptakan lingkungan yang aman agar anak tumbuh percaya diri sesuai keunikan yang dimilikinya.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















