
GERD yang tidak ditangani berisiko menyebabkan anak kehilangan nafsu makan sehingga asupan nutrisi menjadi tidak optimal. Dampaknya, berat badan sulit bertambah, pertumbuhan tinggi badan terhambat, hingga meningkatkan risiko stunting serta memengaruhi perkembangan anak.
Selain itu, kondisi yang lebih berat dapat menyebabkan isi lambung masuk ke saluran pernapasan dan memicu pneumonia aspirasi. Dalam jangka panjang, peradangan pada kerongkongan akibat GERD juga dapat meningkatkan risiko komplikasi yang lebih serius.
Anak dengan obesitas, gangguan pengosongan lambung, gangguan saraf atau otot, kebiasaan tidur setelah makan, serta penggunaan pakaian yang terlalu ketat memiliki risiko lebih tinggi mengalami GERD.
Orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter apabila mengalami muntah berulang, muntah darah, berat badan sulit naik, menolak makan, batuk kronis, anemia tanpa penyebab yang jelas, atau kesulitan menelan.
Penanganan GERD pada anak umumnya dimulai dengan perubahan pola hidup. Orang tua dianjurkan memberikan makanan dalam porsi kecil namun lebih sering, menghindari makanan tinggi lemak dan minuman bersoda, memberi jeda sekitar tiga jam antara makan dan waktu tidur, membiasakan anak tidur dengan posisi kepala sedikit lebih tinggi, serta menggunakan pakaian yang longgar. Bila diperlukan, dokter dapat memberikan obat sesuai kondisi anak.
Dengan mengenali gejala sejak awal dan menerapkan pola hidup yang tepat, GERD pada anak dapat dikendalikan sehingga tidak mengganggu kesehatan maupun proses tumbuh kembangnya.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















